Gunung Bromo Juga Butuh Istirahat

Gunung Bromo Juga Butuh Istirahat

Gunung Bromo Juga Butuh Istirahat

Gunung Bromo Juga Butuh Istirahat

PESIARQQ – Pesona wisata di area Gunung Bromo, Jawa Timur, memang tidak diragukan lagi. Salah satu tujuan wisata unggulan di Jawa Timur tersebut mampu menyedot ratusan ribu wisatawan tiap tahunnya.

Berdasarkan data dari Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB-TNBTS), sepanjang 2019, jumlah trafik wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri ke Taman Nasional Bromo Tengger Semeru menjangkau 690.831 orang.

Dari jumlah total tersebut, sejumlah 669.422 orang adalahwisatawan dalam negeri, sedangkan 21.409 lainnya adalahwisatawan mancanegara.

Total Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari trafik wisatawan tersebut pada 2019, menjangkau Rp22,86 miliar.

Dengan banyaknya jumlah wisatawan yang berangjangsana ke area Taman Nasional Bromo Tengger Semeru tersebut, menjadikan wilayah tersebut juga tidak lepas dari hiruk pikuk kendaraan bermotor yang menjadi moda transportasi utama semua wisatawan.

Tercatat, ada tidak cukup lebih sejumlah 1.416 kendaraan jenis jeep (jip) yang tergabung dengan paguyuban-paguyuban di area sekitar area Bromo.

Paguyuban jeep terbesar berada di distrik Ngadisari, Kabupaten Probolinggo, yang mempunyai 746 unit kendaraan.

Dengan jumlah kendaraan bermotor yang melintas per hari menjangkau ratusan atau bahkan ribuan unit pada ketika puncak musim liburan, area Bromo pun terkena akibat dari pekatnya asap kendaraan bermotor yang berisi karbon monoksida.

Dampak karbon monoksida terhadap lingkungan, terutama tanaman yang mendapatkan penyampaian tinggi, dapat menghambat keterampilan bakteri guna mengikat nitrogen.

Jika sebuah tanaman tidak dapat mengikat nitrogen, maka tumbuhan tersebut tidak dapat tumbuh.

Bromo diputuskan menjadi taman nasional oleh pemerintah pada 12 November 1992.

Keputusan tersebut dipungut sepuluh tahun sesudah adanya Kongres Taman Nasional Sedunia yang mengerjakan pertemuan di Denpasar, Bali, pada 14 Oktober 1982.

Bromo diputuskan sebagai taman nasional dengan mempertimbangkan situasi alam dan lingkungannya yang butuh dilindungi, serta didukung dengan sekian banyak potensi kebiasaan serta tradisi kuno yang butuh dikembangkan.

Sepanjang tahun, area Bromo selalu diarungi kendaraan bermotor, sehingga ketika ini telah waktunya diserahkan waktu guna beristirahat dari hiruk pikuk kendaraan bermotor dengan layak, sekitar satu bulan penuh.

Istirahat sejenak

Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru bareng seluruh pemangku kepentingan di area Bromo, pada 4 Mei 2019, telah mengerjakan Rapat Koordinasi Pelaku Jasa Wisata, untuk menyerahkan sedikit waktu untuk Bromo guna beristirahat.

Sebanyak 140 perwakilan dari semua pemangku kepentingan pelaku jasa wisata, sepakat untuk mengemban Car Free Month atau bulan bebas kendaraan di area Bromo sekitar satu bulan penuh.

Pelaksanaan Bromo Car Free Month tersebut, bertepatan dengan datangnya Wulan Kepitu, atau bulan ke-tujuh cocok kalender masyarakat suku Tengger.

Wulan Kepitu sendiri, adalahbulan yang oleh semua sesepuh Tengger dirasakan sebagai bulan yang disucikan.

Masyarakat Suku Tengger biasa mengerjakan Laku Puasa Mutih pada Wulan Kepitu tersebut, yang bertujuan untuk menyangga perilaku, atau sifat keduniawian, dan lebih mendekatkan diri untuk Sang Pencipta.

Rangkaian Laku Puasa Mutih tersebut, dimulai dengan semua tetua atau sesepuh Suku Tengger akan mengerjakan tapa brata, yang dipenuhi dengan nyepi, sekitar satu hari satu malam, dan tidak tidur.

Kemudian, tidak mengonsumsi makanan enak, dan seringkali hanya memakan nasi jagung serta daun-daunan sekitar satu bulan penuh, yang diblokir dengan pati geni sekitar satu hari.

Untuk menghormati kebiasaan tersebut, Balai Besar TNBTS merealisasikan Car Free Month sekitar satu bulan penuh.

Terhitung mulai 24 Januari sampai 24 Februari 2020, wisatawan tidak diperkenankan untuk memakai kendaraan bermotor, yang diharapkan dapat mengembalikan keselarasan dan kesederhanaan dalam hidup.

Kepala Sub Bagian Data Evaluasi Pelaporan dan Kehumasan Balai Besar TNBTS Sarif Hidayat menuliskan bahwa kesepakatan guna pelaksanaan bulan bebas kendaraan bermotor atau car free month di area Bromo tersebut, guna menghormati kebijaksanaan lokal masyarakat Tengger.

Selain guna menghormati kebiasaan masyarakat Tengger, pengamalan bulan bebas kendaraan bermotor tersebut, pun memberikan waktu untuk kawasan Bromo untuk mencairkan ekosistem yang terdapat dari penyampaian gas karbon monoksida.

“Ini adalahsalah satu implementasi sepuluh teknik baru pengelolaan area konservasi. Yaitu penghormatan terhadap kebijaksanaan lokal, sekaligus momentum untuk mencairkan ekosistem area Bromo,” kata Sarif.

Kendaraan bermotor jenis apapun tidak diizinkan memasuki area Laut Pasir Tengger, Savana Telletubies, atau mulai dari pintu masuk Tengger Laut Pasir di Cemoro Lawang, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.

Kemudian, pembatasan juga dilaksanakan pada pintu masuk Coban Trisula, Jemplang, Kabupaten Malang serta pintu masuk Dingklik Penanjakan, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

Dukungan operator wisata

Penerapan bulan bebas kendaraan bermotor di area Bromo, pastinya memiliki akibat yang tidak kecil terhadap semua pelaku jasa wisata, utamanya penyedia jasa angkutan jeep, yang adalahmoda transportasi utama untuk wisatawan untuk mengarah ke Bromo.

Sebelum adanya penerapan bulan bebas kendaraan bermotor di Bromo tersebut, semua penyedia jasa sewa angkutan jeep dari distrik Malang Raya, dapat menyewakan tidak cukup lebih 20 unit per hari untuk para wisatawan.

Namun dengan adanya penerapan bulan bebas kendaraan bermotor tersebut, semua pelaku jasa wisata yang tergabung dalam Paguyuban Jip Wisata Malang Raya, tidak melayani penyewaan jeep sama sekali, alias dihentikan untuk memuliakan Wulan Kepitu, dan konservasi Bromo.

Ketua Paguyuban Jip Wisata Malang Raya Idhamsyah Putra mengaku bahwa, dengan adanya peraturan yang berlaku pada 24 Januari sampai 24 Februari 2020 tersebut, pendapatan semua pelaku usaha jelas merasakan penurunan.

Namun, semua anggota Paguyuban Jip Wisata Malang Raya tersebut mengaku tidak keberatan dengan pengamalan bulan bebas kendaraan tersebut, untuk memuliakan adat masyarakat Suku Tengger sekaligus konservasi terhadap distrik Bromo.

“Dari sisi pemasukan memang menurun, namun tidak terdapat masalah untuk kami, sebab ini guna adat istiadat dan konservasi Bromo. Saya dan teman-teman memuliakan itu,” kata Idhamsyah.

Dengan tidak dioperasikannya semua jeep yang sedang di bawah naungan Paguyuban Jip Wisata Malang Raya tersebut, semua wisatawan yang akan mengarah ke Bromo dipindahkan dengan memakai kendaraan jenis lain sampai titik-titik yang telah ditentukan.

Dari titik tersebut, semua wisatawan yang hendak menikmati keindahan Bromo dapat berjalan kaki, bersepeda, atau mencarter kuda dari semua penduduk setempat. Untuk mencarter kuda tersebut, wisatawan mesti menyiapkan uang tidak cukup lebih sejumlah Rp250.000.