Fittonia, si Mungil Senang di Tempat Teduh dan Kelembapan Tinggi

Fittonia, si Mungil Senang di Tempat Teduh dan Kelembapan Tinggi

Fittonia, si Mungil Senang di Tempat Teduh dan Kelembapan Tinggi

Fittonia, si Mungil Senang di Tempat Teduh dan Kelembapan Tinggi

Tak perlu ragu memulai hobi berkebun. Buat pemula, fittonia bisa menjadi pilihan tanaman hias pertama. Mungil, cantik, mudah dirawat. Dan, yang tak kalah penting: terjangkau!

DAUN-daun cantik dalam warna hijau, merah muda, dan kuning-hijau tampak menghiasi rak tanaman di rumah Dr Ir Fatimah Nursandi MSi di Junrejo, Batu. Pot-pot kecil berisi tunas, pot tunas berisi label yang merupakan subjek penelitian mahasiswanya, hingga pot sedang dengan rumpun fittonia menjadi salah satu primadona baru di kebunnya.

”Belinya di awal-awal pandemi karena lucu. Harganya murah, satu pot rimbun nggak sampai 50 ribu,” ungkapnya. Daftar di sini

Dosen Program Studi Agroteknologi Universitas Muhammadiyah Malang itu lalu mencoba memperbanyak lewat stek daun. Pucuk dipotong di atas ketiak daun, lalu ditancapkan di media tanam. ”Sekitar 3–4 minggu sudah siap jual. Ternyata banyak yang minat,” lanjut Fat, sapaan Fatimah Nursandi. Fittonia menjadi ikon di Sadean Kembang, outlet daring yang dikelola dua anaknya, Afif Mahardhikasani dan Dinda Fajriyasani.

Fat menjelaskan, tanaman tropis asal Amerika Selatan itu memiliki ciri khas urat daun yang mencolok. Contohnya, daun hijau gelap dengan urat putih. Atau, urat daun merah muda. ”Makanya, ada yang menyebut nerve plant,” paparnya. Alumnus Institut Pertanian Bogor itu menilai, perawatan fittonia tak rumit.

Di alam liar, tumbuhan evergreen tersebut tumbuh sebagai penutup tanah di bawah kanopi pohon. Dengan begitu, saat dipelihara di rumah, fittonia perlu mendapat teduhan. Di kebunnya, Fat menggunakan atap fiber dilapis paranet untuk mengurangi paparan cahaya matahari. ”Kalau kena panas, tanaman bakal rebah. Tumbuhnya nggak sebagus kalau dengan teduhan,” lanjutnya.

Perempuan yang juga mengelola pendidikan dan pelatihan Mitra Anggrek Indonesia tersebut menceritakan, fittonia menyukai kelembapan tinggi. Penyiraman wajib dilakukan tiap hari. Karena itu, media tanamnya harus mampu menyimpan air. Fat menyarankan pemakaian coco peat yang dikombinasikan dengan tanah, humus, pupuk kandang, dan sekam.

”Kalau hanya tanah, terlalu padat dan membuat perakarannya kurang bagus. Kalau sekam, tidak bisa menyimpan air,” ungkap Fat. Pemberian pupuk juga bisa diberikan berkala agar tanaman makin subur. Ibu empat anak itu menilai, fittonia juga amat mungkin ”berubah”. Alias, mengalami mutasi.

Contohnya, salah satu indukan fittonia merah muda miliknya. Daun di bagian bawah memiliki kombinasi hijau-merah muda. Namun, tunas yang baru tumbuh berwarna pink nyaris solid. Hanya bagian tepiannya yang tipis berwarna hijau. ”Biasanya, saya coba lagi. Tunas saya tanam, lalu dilihat lagi. Kalau stabil, berarti anakannya kelak membawa sifat itu,” ungkap Fat.

AGAR FITTONIA TUMBUH SEHAT

  • Pemupukan bisa dilakukan tiap dua minggu sekali dengan jenis pupuk standar. Takarannya, 1/8 sendok teh pupuk dilarutkan dalam 1 gelas air. Siram hingga larutan pupuk keluar dari dasar pot.
  • Untuk membentuk ”rumpun” fittonia yang tumbuh serasi, jangan lupa pemangkasan. Tunas yang dipangkas bisa ditanam kembali di pot baru atau sisi pot yang kosong.
  • Semaian tunas yang baru ditanam idealnya diletakkan di bawah teduhan ekstra. Misalnya, di bagian bawah rak tanaman. Setelah 2–3 minggu, barulah tanaman siap dipajang.
  • Untuk tempat yang cenderung kering seperti di bawah AC, bagian bawah pot fittonia bisa ditambah wadah berisi air agar kondisi tanah tetap lembap.
  • Bila daun fittonia terlihat kekuningan, tandanya media tanam terlalu lembap sehingga frekuensi menyiram perlu dikurangi.