Film Bergenre Psikopat Mempengaruhi Kesehatan Mental

Film Bergenre Psikopat Mempengaruhi Kesehatan Mental

Film Bergenre Psikopat Mempengaruhi Kesehatan Mental

 

Film Bergenre Psikopat Mempengaruhi Kesehatan Mental

Klik di sini – Tak lama sesudah pemutarannya, film Joker sontak menjadi perbincangan. Ada yang ‘jatuh cinta’ dengan ‘kejeniusan’ sang tokoh, terdapat pula yang menghina karena kisah dan dialog yang dirasakan keluar dari norma.

Alur kisah yang dark dan mengisahkan sosok musuh Batman yang punya masalah kejiwaan (mental ilness) laksana skizofrenia dan penyakit lainnya yang dinamakan pseudobulbar dirasakan ‘berbahaya’ untuk disaksikan anak-anak dan orang-orang yang telah punya masalah depresi.

Film sejenis Joker, sebetulnya bukan barang baru. Film-film yang dikategorikan sebagai film slasher ini sebetulnya sudah hadir sejak era 60-an ketika Alfred Hitchcock memproduksi film berjudul Psycho yang digadang-gadang menjadi titik awal ‘kejayaan’ film slasher. Psycho dapat menciptakan ‘kewajaran’ baru bakal kekerasan, perilaku menyimpang, tergolong seksualitas dalam film-film Amerika.

Film slasher lazimnya memiliki rumus khusus, yakni menghadirkan sosok yang mempunyai pengalaman buruk di masa lalu, merasakan trauma parah, sehingga merangsang gangguan mental yang ‘melahirkan’ psikopat. Di balik banyaknya kritikan, tetapi film slasher pun mempunyai penggemarnya sendiri, bahkan sering mendapat pujian.

Sebut saja Joker. Film yang mengusung mengenai Arthur Fleck yang merasakan gangguan jiwa dampak pengalaman pilu masa lalu. Mengisahkan pelbagai kekerasan baik jasmani maupun mental yang darurat diterima dan dilewati oleh Fleck, seorang komedian gagal.Kondisi tersebut memprovokasi kejiwaan Fleck, dari semula seorang yang tertindas menjadi penjahat berdarah dingin yang tidak merasa bersalah saat mengambil nyawa seseorang.

Konflik-konflik sosial laksana masalah kesehatan mental, benturan antar-kelas dan strata masyarakat, sampai politik manipulatif diperlihatkan secara nyata dan gamblang.

Walau begitu, di tengah kontroversi bakal tayangan yang begitu ‘gelap’, Joker malah mendulang untung. Berdasarkan data Box Office Report, pada akhir pekan debut, Joker sukses mendulang US$9,2 juta di Korea Selatan. Joker lantas berjaya di Inggris Raya dengan US$4,7 juta, kemudian Meksiko dengan US$4,2 juta, Rusia dengan US$3,9 juta, Australia dengan US$3,1 juta, kemudian Brasil dengan US$2,9 juta.

Sementara tersebut di Indonesia, Joker mendapat US$2,7 juta atau setara dengan Rp38,2 miliar per 5 Oktober. Angka tersebut melonjak menyeluruh dari hari pendahuluan kesatu di Indonesia yang mencetak Rp11 miliar.

Efek meniru (copycat effect)

Angka pekan debut yang dicetak Joker menandakan antusiasme publik terhadap genre film slasher, walau sempat timbul kekhawatiran timbulnya kembali insiden penembakan dalam bioskop laksana pada penayangan The Dark Knight Rises di Colorado 2012 silam.

Insiden penembakan yang terjadi pada tujuh tahun lalu itu dinilai sebagai the copycat effect yakni kecenderungan guna meniru kekerasan, pembunuhan, atau bunuh diri yang dilihat. Istilah ini dibuat sekitar tahun 1916 ketika sejumlah kriminolog menilai bahwa media dan tontonan bisa memainkan peran dalam menginspirasi penjahat lain guna melakukan durjana dengan teknik yang sama, bahkan untuk non-penjahat guna mulai mengerjakan kejahatan.

Jadi, sejauh mana film sejenis Joker bisa memengaruhi pemirsa untuk kerjakan hal yang sama?

Dokter spesialis kedokteran jiwa Agung Frijanto menuliskan ada sejumlah kumpulan yang memang rentan guna terkena akibat psikologis bakal tontonan slasher, horor, thriller, dan sejenisnya, yaitu kumpulan usia balita, anak-anak, dan remaja awal.

Kategori umur menurut keterangan dari Departemen Kesehatan RI tahun 2009 sendiri yaitu balita 0-5 tahun, kanak-kanak 5-11 tahun, remaja mula 12-16 tahun, remaja akhir 17-25 tahun, serta dewasa mula 26-35 tahun. Dengan kata lain, film Joker yang dikategorikan oleh Lembaga Sensor Film (LSF) sebagai film untuk kelompok usia 17+, dapat disaksikan mulai dari kumpulan usia remaja akhir.

Ketua LSF Ahmad Yani mengatakan, film Joker telah melalui perjalanan panjang sampai akhirnya ditetapkan ‘cocok’ untuk kelompok usia 17+ atau 17 tahun ke atas. Walau 17 tahun ialah masa remaja akhir, tetapi kesiapan mental semua remaja akhir ini dirasakan sudah lumayan kuat.

Psikolog Klinis Anak dan Remaja Listya Paramita berpendapat, secara tahap pertumbuhan kognitif, umur 17 tahun memang telah masuk dalam etape operasi formal. Artinya, secara mental telah dapat beranggapan logis tentang sekian banyak gagasan yang abstrak. Sehingga sudah dapat memaknai isi film dengan logis dan tepat ketimbang umur di bawahnya.