Terkuak, Machu Picchu dan Kerajaan Inca Dibangun di Atas Lempeng

fakta Machu Picchu dan Kerajaan Inca Dibangun di Atas Lempeng

fakta Machu Picchu dan Kerajaan Inca Dibangun di Atas Lempeng

 

fakta Machu Picchu dan Kerajaan Inca Dibangun di Atas Lempeng

Salah satu simbol Kerajaan Inca sangat terkenal ketika ini ialah benteng kuno Machu Picchu, yang dibangun salah satu puncak Machu Picchu dan Huayan Picchu.

Dibangun selama tahun 1450 di elevasi sekitar 2.350 mdpl, Machu Picchu sedang di atas lembah Urubamba, area Pegunungan Andes, Peru. Benteng ini juga bertempat di jalan yang sempit di sepanjang sisi gunung yang curam.

Teras yang di bina di tebing berbatu, yang menghadap ke jurang Sungai Urubamba, dipakai untuk bercocok tanam. Mata air di sana menyediakan lumayan air segar guna lebih dari 1.000 penduduk.

Namun, kenapa Machu Picchu di bina di lokasi yang sulit diakses laksana itu?

Di samping dari aspek religius, riset baru yang dipresentasikan pada pertemuan tahunan Geological Society of America (GSA) menunjukkan, Bangsa Inca juga memikirkan soal geologi yang dinilai mereka berperan penting untuk kerajaan.

Berdasarkan penyelidikan lapangan dan analisis potret udara oleh kesebelasan peneliti dari Rio Grande do Sul University, Kerajaan Inca di bina di tempat-tempat di mana patahan geologis saling bersilangan.

Machu Picchu sedang di atas dua sistem patahan urgen yang saling bertemu, satu berlangsung dari unsur timur laut ke barat daya dan satu lagi berlangsung dari barat laut ke tenggara. Bahkan, satu bangunan dan kuil di benteng mengekor panjangnya sesar.

Sejalan dengan patahan tersebut, granit keras yang digunakan untuk membina Machu Picchu, batholith (sejumlah besar batuan beku intrusi, lebih banyak dari 100 kilometer persegi, yang terbentuk dari magma dingin di kerak Bumi) yang berusia 250 juta tahun, hancur oleh gerakan tektonik.

Suku Inca beradaptasi dengan eksistensi sesar tersebut. Mereka mencari puing-puing yang telah longgar. Blok granit yang digali ini kemudian dipakai untuk membina dinding dan bangunan.

Parit yang digali di tanah pun mempunyai keuntungan urgen lainnya, di distrik dengan curah hujan nyaris 80 inci per tahun, sebab berperan sebagai saluran saluran untuk air tanah.

Mereka mesti tahu teknik untuk mengeringkan gunung Inca kuno supaya menstabilkan lereng yang berbatu. Jika tidak, maka area itu akan paling rentan terhadap runtuhan dan tanah longsor.

Analisis lebih lanjut dari potret udara mengindikasikan situs Inca lainnya, laksana Ollantaytambo di Peru tenggara, Pisac di Lembah Suci Inca, yang seluruhnya sedang di atas sistem sesar utama.

Penjelasan Lanjut


Machu Picchu dirasakan sebagai di antara pencapaian arsitektur terbesar umat manusia. Situs ini di bina di atas Pegunungan Andes di distrik terpencil, di atas ngarai sungai yang terjal.

Namun, tempat tempat yang disebutkan suci ini sudah lama membingungkan semua ilmuwan: Mengapa Suku Inca membina karya agung mereka di lokasi yang susah dijangkau? Penelitian mengindikasikan bahwa jawabannya barangkali bersangkutan dengan sesar geologis yang terletak di bawah situs.

Pada Senin, 23 September 2019, pada pertemuan tahunan GSA di Phoenix, Rualdo Menegat (seorang berpengalaman geologi di Rio Grande do Sul University), mempresentasikan hasil analisis geoarkeologis terperinci yang menjelaskan Suku Inca memang sengaja membina Machu Picchu –serta sejumlah kota mereka– di tempat di mana patahan tektonik bertemu.

“Lokasi Machu Pichu bukanlah sebuah kebetulan,”Tidak mungkin membina situs seperti tersebut di pegunungan tinggi andai substratnya (dasar) tidak retak.”

Dengan memakai kombinasi pencitraan satelit dan pengukuran lapangan, Menegat memetakan jaringan padat fraktur (keretakan) dan patahan yang terdapat di bawah Situs Warisan Dunia UNESCO.

Menegat mengejar bahwa sesar dan fraktur ini terjadi dalam sejumlah set, sejumlah di antaranya cocok dengan zona patahan utama yang bertanggung jawab guna mengusung Pegunungan Andes Tengah sekitar delapan juta tahun terakhir.

Karena sejumlah dari sesar tersebut berorientasi di unsur timur laut-barat daya dan yang lainnya di barat laut-tenggara, patahan itu secara kolektif membuat format huruf “X”, di mana sesar-sesar ini berpotongan di bawah Machu Picchu.

Pemetaan Menegat mengindikasikan bahwa sektor perkotaan dan ladang pertanian di sekitarnya, serta bangunan dan tangga-tangga, semuanya sejalan dengan tren sesar utama ini. http://68.183.234.248/sultan99/

“Tata letak jelas menggambarkan matriks fraktur yang mendasari situs,” ujar Menegat. Kota Inca kuno lainnya, tergolong Ollantaytambo, Pisac, dan Cusco, pun terletak di percabangan sesar.

Kerajaan yang Retak


Hasil studi Menegat mengindikasikan jaringan patahan dan patahan yang mendasari adalahbagian integral dari konstruksi Machu Picchu.

Suku Inca memanfaatkan bahan bangunan yang berlimpah di zona patahan. “Keretakan yang intens di sana menciptakan batu-batu tersebut pecah di sepanjang bidang kekurangan yang sama ini, yang sangat meminimalisir energi yang diperlukan untuk mengukirnya.”

Selain menolong membentuk bangunan berbahan dasar batu, jaringan patahan di Machu Picchu bisa jadi menawarkan kelebihan lainnya. “Sesar tektonik di wilayah itu mengalirkan air lelehan dan air hujan langsung ke tempat penduduk,” ucap Menegat.

Pembangunan Machu Picchu yang sedemikian tinggi pun mempunyai guna untuk mengisolasi website dari longsoran dan tanah longsor –bahaya yang terlampau umum di lingkungan pegunungan semacam ini.

Sesar yang mendasari Machu Picchu pun membantu mengeringkan website ini saat diterpa badai hujan yang hebat.

“Kira-kira, dua pertiga dari upaya untuk membina tempat suci ini melibatkan pembangunan saluran bawah permukaan,” Menegat menejlaskan.

“Fraktur yang telah ada sebelumnya menolong proses ini dan menolong menjelaskan pelestariannya yang luar biasa,” lanjutnya. “Machu Picchu dengan jelas menunjukkan untuk kita bahwa kemajuan Inca ialah kerajaan batu yang retak.”

BACA JUGA :

Pertama Kalinya, Warga Australia Boleh Tanam dan Pakai Ganja