Emular House: Presisi, Efisien, dan Minim Sampah Pembangunan

Emular House: Presisi, Efisien, dan Minim Sampah Pembangunan

Emular House: Presisi, Efisien, dan Minim Sampah Pembangunan

Emular House: Presisi, Efisien, dan Minim Sampah Pembangunan

Rumah tinggal berukuran kecil bisa jadi amat menyenangkan. Emular House milik Angga Maulana, contohnya. Dengan konsep rumah modular, hunian tersebut berhasil membuat orang-orang yang melintasi kawasan Jalan Sukarajin, Bandung, menoleh.

DARI gerbang saja, Emular House tampak berbeda dengan rumah di sekitarnya. Luasnya memang hanya 70 meter persegi. Namun, tampilan project Aaksen Responsible Aarchitecture itu lebih menonjol ketimbang rumah-rumah lainnya. ’’Sengaja gerbangnya kami buat lebar seperti itu supaya memudahkan memarkir mobil,’’ ungkap Gea Sentanu, manajer Aaksen Studio, yang mendampingi Jawa Pos saat menyambangi Emular House.

Gea menjelaskan, Angga sebagai pemilik rumah memang anak muda. Namun, Emular House dibangun bukan untuk Angga, melainkan orang tuanya. Rumah itu menerapkan konsep modular yang mengedepankan perencanaan ukuran dengan presisi.

Aaksen mendesain Emular House dengan acuan modul 1.200 mm. Mengikuti acuan panel modul pada material seperti gypsum, plywood, maupun HPL. Maka, setiap material yang dipakai untuk membangun rumah diukur dan disiapkan jauh sebelum proses konstruksi atau pembangunan. Gea mencontohkan material keramik yang sudah diukur dan dibuat sesuai kebutuhan Emular House. ’’Dengan sistem ukuran yang baku, tukang tinggal susun material seperti lego,’’ terangnya. Daftar di sini

Dengan sistem tersebut, pembangunan rumah modular seperti Emular House lebih hemat material dan hemat biaya untuk pembelian material maupun biaya tukang. Sebab, pembangunannya relatif cepat. ’’Kalau tidak kena hit pandemic, normalnya tiga bulan selesai,’’ jelas Gea sembari menyebut biaya pembuatan berkisar Rp 400-500 juta.

Bukan hanya itu, konsep rumah modular berpengaruh baik terhadap lingkungan. Membangun rumah dengan konsep rumah modular sudah pasti lebih minim sampah sisa pembangunan. Hal itu membuat Aaksen sangat bergairah membangun Emular House. Sebab, mereka tak ingin menyisakan banyak sampah dalam pembangunan rumah yang mereka garap.

Nama rumah itu pun mengandung arti. Yakni, Embrio Modular House. Emular House memang bukan rumah modular pertama di Indonesia. Namun, belum banyak orang yang mengetahui konsep rumah tersebut. Lewat Emular House, Aaksen Studio ingin konsep rumah modular lebih dikenal. ’’Untuk rumah modular, Emular House proyek pertama kami,’’ papar Gea.

Desain Emular House tampak menarik. Bagian fasad, jika dilihat dari depan, bagian kanan bangunan lebih tinggi dari bagian kiri. ’’Sisi kanan (di balik fasad) itu ada ruangan yang menghadap sisi kiri. Di situ ada mezzanine,’’ ujar Gea.

Di lantai atas, Aaksen Studio menempatkan 2 kamar tidur dan 1 toilet. Sementara itu, di bagian bawah ada ruang keluarga, ruang depan, dapur, musala, toilet, gudang, area jemur, dan satu kamar utama. Meski terbatas lahan, Emular House punya ruang-ruang di bagian kanan dan kiri rumah yang bisa difungsikan untuk menaruh tanaman. ’’Memang kanan, kiri, belakang kami sisakan space,’’ ucap Gea.

Dengan begitu, Emular House tidak menempel ke rumah tetangga di samping kanan, kiri, maupun belakang. Di bagian depan, area carport cukup untuk mobil ukuran MPV plus dua motor.

Emular House yang mengusung konsep rumah modular juga tahan lama. Sebab, material bangunan rumah itu tidak beda jauh dengan rumah konvensional. Ada baja ringan, besi, batuan untuk fondasi, kayu, gipsum, dan keramik. Hanya, material-material itu dibuat sesuai kebutuhan rumah sebelum didatangkan ke lokasi pembangunan. Efektif dan efisien.