Dokter Ungkap Risiko Penggunaan UV Portable untuk Sterilisasi

Dokter Ungkap Risiko Penggunaan UV Portable untuk Sterilisasi

Dokter Ungkap Risiko Penggunaan UV Portable untuk Sterilisasi

Dokter Ungkap Risiko Penggunaan UV Portable untuk Sterilisasi

Belakangan muncul fenomena baru di tengah pandemi, berupa penggunaan lampu Ultra Violet C (UV-C) portable yang dianggap dapat membunuh virus corona. Namun, para ahli memperingatkan pemakaian lampu UVC tak boleh langsung mengenai manusia.
Lampu UV (UV portable) yang banyak dijual di toko online merupakan lampu yang dapat mensterilkan ruangan dengan sinar ultraviolet, biasanya menggunakan gelombang C (UVC). Beberapa gerai juga menawarkan lampu UVC portable untuk mensterilkan perkakas harian.

Lampu tersebut diklaim ampuh membunuh virus, tungau, bakteri, dalam radius tertentu.

Menurut dokter spesialis paru yang merupakan Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Agus Dwi Susanto, lampu UVC memang dapat membunuh virus meski efektivitasnya tidak sempurna.

“Iya bisa, tapi tidak 100 persen. Itu hanya membunuh virus-virus yang ada di udara dan benda-benda yang terkontaminasi. Ini pun hanya benda-benda yang bisa terjangkau oleh lampunya,” jelas dokter Agus kepada SenjaQQ Rabu (16/9).

Penggunaan lampu UVC juga harus dilakukan secara hati-hati. Lampu ini hanya boleh dinyalakan di ruangan kosong tanpa ada manusia di dalamnya.

Agus mewanti, paparan lampu UVC pada manusia dinilai membahayakan sebab dapat memicu pelbagai penyakit mulai dari iritasi pada kulit hingga kanker.

“Tidak boleh ada orang, saat lampu menyala. Bahaya. Iritasi sampai dengan kanker,” tegas Agus.

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan, lampu UV tidak boleh digunakan untuk mendesinfeksi tangan maupun area lain dari kulit.

“Radiasi UV dapat menyebabkan iritasi kulit dan kerusakan pada mata. Bersihkan tangan dengan pembersih berbasis alkohol atau cuci tangan dengan air dan sabun adalah cara paling efektif membunuh virus,” pernyataan resmi WHO menanggapi mitos mengenai lampu UV.