Dokter Diminta Waspada Potensi Pneumotoraks Pasien Covid-19

Dokter Diminta Waspada Potensi Pneumotoraks Pasien Covid-19

Dokter Diminta Waspada Potensi Pneumotoraks Pasien Covid-19

Dokter Diminta Waspada Potensi Pneumotoraks Pasien Covid-19

Para dokter yang menangani pasien Covid-19 diingatkan untuk mewaspadai kemungkinan komplikasi lain berupa pneumotoraks atau paru-paru mengempis (kolaps). Peringatan ini menyusul studi dari peneliti University of Cambridge yang mendapati 1 dari 100 pasien infeksi virus corona yang dirawat di rumah sakit mengalami paru-paru tertusuk atau pneumotoraks.
Menurut laman kesehatan SenjaQQ, pneumotoraks merupakan istilah medis untuk paru-paru yang kolaps yakni ketika udara memasuki ruang di sekitar paru-paru. Kondisi ini bisa terjadi saat ada cedera terbuka di dinding dada atau robekan atau pecahnya jaringan paru-paru.

Hasil studi yang dipublikasikan di European Respiratory Journal itu merupakan seri kasus observasi multisenter. Stefan Marciniak, seorang profesor di University of Cambrige Institute of Medical Research mengungkapkan peneliti Inggris mulai memperhatikan bahwa beberapa pasien Covid-19 mengembangkan kondisi tersebut dan memutuskan untuk menyelidikinya lebih lanjut.

“Kami mulai melihat pasien dengan paru-paru tertusuk, bahkan di antara mereka tidak menggunakan ventilator. Untuk melihat apakah ada hubungan yang nyata [antara Covid-19 dengan pneumotoraks], saya menghubungi rekan-rekan ahli pernapasan di seluruh Inggris melalui Twitter,” ungkap Marciniak dikutip dari Web MD.

Tanggapannya dramatis, lanjut Marciniak. Pneumotoraks jelas merupakan kondisi yang juga dilihat orang lain di lapangan.

Para peneliti mencatat, kerusakan paru-paru dapat menyebabkan tusukan. Saat udara bocor lantas menumpuk di ruang antara paru-paru dan dada, akan mengakibatkan paru-paru kolaps. Ini yang disebut sebagai pneumotoraks.

Untuk penelitian tersebut, Marciniak menganalisis data dari 16 rumah sakit di Inggris. Ia menemukan bahwa 0,91 persen pasien Covid-19 mengembangkan pneumotoraks. Dari pasien dengan paru-paru kolaps tersebut, sebanyak 63 persen di antaranya selamat.

Namun begitu, pasien yang lebih tua memiliki risiko kematian yang lebih tinggi. Hasil studi yang dipublikasikan di European Respiratory Journal menunjukkan, tingkat kelangsungan hidup di antara mereka yang lebih muda antara 70-71 persen dibandingkan dengan 42 persen di antara mereka yang lebih tua.

Pasien dengan darah asam abnormal atau disebut asidosis juga memiliki hasil yang lebih buruk. Asidosis ini bisa dihasilkan akibat fungsi paru-paru yang buruk.

“Dokter perlu waspada terhadap kemungkinan paru-paru tertusuk pada pasien Covid-19. Bahkan pada orang yang tidak dianggap sebagai pasien berisiko,” Marciniak mengingatkan.

“Banyak dari kasus yang kami laporkan ditemukan secara kebetulan. Dokter mereka tidak mencurigai adanya paru-paru tertusuk dan diagnosisnya pun dibuat secara kebetulan,” ia memberi catatan.

Para peneliti menyebut, ada sejumlah dugaan alasan mengapa Covid-19 bisa mengakibatkan paru-paru tertusuk. Termasuk lantaran pembentukan kista di paru-paru.