Diduga Pembunuh Gajah di Riau dan Aceh Masih Satu Kelompok

Diduga Pembunuh Gajah di Riau dan Aceh Masih Satu Kelompok

Diduga Pembunuh Gajah di Riau dan Aceh Masih Satu Kelompok

Diduga Pembunuh Gajah di Riau dan Aceh Masih Satu Kelompok

Kuat sangkaan dua permasalahan pembunuhan gajah sumatra di Riau dan Aceh dilaksanakan oleh kumpulan yang sama. Hal itu paling tidak diungkapkan Wishnu Sukmantoro dari Forum Gajah Indonesia.

Hal tersebut dikatakannya menanggapi kematian dua gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) yang terjadi secara berturut-turut pada November ini di Riau dan Aceh. Kedua satwa dibentengi tersebut mati dampak perburuan gading gajah. Pelaku pembantai gajah sumatra itu sampai kini masih berkeliaran  Ludoqq Domino99.

Ia menuliskan kejadian serupa yang pernah terdeteksi terjadi pada 2010 dan 2016. Pada 2010, kumpulan pemburu gading mengeksekusi gajah di Riau, Aceh hingga Lampung. Kemudian pada 2016 pun sama dua titik di Riau, yaitu di Kabupaten Bengkalis dan Pelalawan. Namun, kumpulan terakhir yang dinamakan sebagai kumpulan Fadli, sukses diringkus.

“Proses eksekusinya sama, dengan kata lain mereka juga. Motif mereka begitu, tidak melulu satu titik, dua titik. Kalau sukses eksekusi hari ini, tentu lima hari lantas eksekusi di lokasi lain,” ujarnya.

Sukmantoro yang pernah menjabat manajer program WWF Sumatera Tengah ini mengatakan, minimal ada tiga kelompok pemburu gading gajah di Riau dan Jambi. Mereka secara spesifik membidik gading gajah, dan dapat beroperasi hingga ke Aceh dengan melibatkan oknum kepala desa.

Berdasarkan keterangan dari dia, kumpulan pemburu seringkali terdiri dari pemodal, satu orang penembak selaku eksekutor. Mereka mengoleksi gading dan tidak memasarkan langsung, tetapi melalui perantara (broker).

“Mereka tidak jual langsung,” katanya.

Ia menuliskan dalam jaringan perniagaan tersebut terdapat penampungnya di Jakarta. Penampung itu tidak melulu membeli gading, tapi seluruh hal yang sehubungan dengan satwa langka laksana kulit harimau. Selain tersebut ada satu penampung besar yang bertempat di Malaysia.

“Itu yang penampung besar jual hingga Thailand, tergolong kulit-kulit harimau,” katanya.

Ia menuliskan solusi untuk menangkal perburuan gajah ialah memperketat pemantauan kawasan, lagipula dua permasalahan di Riau dan Aceh terjadi di dalam konsesi perusahaan perkebunan dan hutan tumbuhan industri.

Ketika terdapat satu permasalahan pembunuhan gajah dapat cepat diketahui, maka pergerakan kumpulan tersebut dapat dilacak dan diblok.

“Tapi permasalahan yang di Riau terlambat diketahui, sebab gajah telah mati lima hari,” ujarnya.

Di samping itu, pemegang izin konsesi pun harus memperketat seluruh orang yang keluar-masuk dan tidak mengizinkan semua jenis perburuan. Ia menuliskan pemburu sekarang lebih lihai sebab menggunakan mobil minibus dan menyembunyikan gading di kolong kendaraan. Pemburu pun kerap berkedok sebagai anggota persatuan penembak, dan memakai koneksi ke jajaran manajemen tertinggi untuk dapat masuk ke dalam konsesi.

Ludoqq Domino99

“Kenapa kumpulan (pemburu) ini masih ada, ya sebab uang. Ketika mereka sukses jual (gading), dengan melulu dihukum dua tahun enam bulan bila tertangkap, mereka masih dapat makan dipenjara,” katanya.