Di Balik Galaknya Para Pendemo Di Negara Hongkong

Di Balik Galaknya Para Pendemo Di Negara Hongkong

Di Balik Galaknya Para Pendemo Di Negara Hongkong

 

Di Balik Galaknya Para Pendemo Di Negara Hongkong

Cerdaspoker DominoQQ – Menimba ilmu di Universitas Pelita Harapan (UPH), Tangerang, membawa saya terbang jauh ke Hong Kong. Sebagai mahasiswa akhir jurusan perhotelan, kerja magang di hotel adalahsalah satu dari kriteria kelulusan semua mahasiswa.

Genap tiga bulan saya sedang di Hong Kong guna magang di Hotel Ritz-Carlton. Banyak hal-hal baru yang saya dapatkan. Mulai dari mendapatkan rekan baru, empiris baru, hingga sejumlah perspektif baru.

Hong Kong sukses membuat saya kagum, salah satunya ialah fasilitas transportasi umumnya. Sama laksana Jakarta, di sini saya bisa naik transportasi umum laksana bus dan kereta untuk menjangkau tempat tujuan. Bedanya, di sini volume mobil dan motor individu yang berkeliaran di jalan jarang, sampai-sampai tak memunculkan polusi udara.

Namun sejumlah waktu belakangan ini suasana Hong Kong sedang tidak nyaman. Hal tersebut berhubungan demo masyarakat Hong Kong yang menampik RUU Ekstradisi atau demo pro-demokrasi. Saya sendiri tak ikut dalam demo, namun saya merasakan akibat negatif yang dimunculkan atas aksi tersebut.

Kerusakan berat terjadi di sejumlah kemudahan umum, laksana stasiun kereta dan ruas jalan. Perjalanan bus dan MRT pun ikut terhambat.

Faktor itu menjadi kekhawatiran untuk kami yang bekerja di hotel, terutama untuk saya yang akan kembali ke apartemen di area Jordan. Untungnya hotel lokasi saya magang meluangkan tempat tinggal untuk karyawannya yang tak dapat pulang andai demo semakin ricuh.

Walau aksi demo menciptakan masyarakat merasa tidak aman, tetapi perlu dinyatakan kalau urusan itu memperlihatkan alangkah kompak dan nasionalisnya warga Hong Kong.

Di balik “kegalakan” warga Hong Kong ketika demo, sebetulnya mereka mempunyai karakter yang ramah dan berpikiran terbuka. Maklum saja negara ini menjadi di antara negara yang ramai ditemui ekspatriat, sampai-sampai seluruh kebudayaan bercampur tanpa berselisih. Budaya Barat dapat terjalin hangat dengan kebiasaan Asia. Hampir tidak terdapat yang rasis di sini.

Sayangnya bahasa tidak jarang menjadi kendala, terutama ketika berkomunikasi dengan orang tua yang jarang dapat berbahasa Inggris dengan fasih. Sedikit demi tidak banyak yang berjuang mempelajari bahasa Kanton supaya bisa berkomunikasi simpel dengan mereka.

Hidup di Hong Kong pun tak semurah yang dibayangkan. Saya menjatahkan 100 HKD (sekitar Rp180 ribu) per hari. Di sini, harga makanan yang di jual ekuivalen 40-50 HKD (sekitar Rp70 ribu hingga Rp90 ribu) guna sekali makan. Tentu saja saya mesti dengan seksama mengatur keuangan.

Meski demikian hobi melakukan pembelian barang saya masih membara di sini. Kalau berakhir gajian, saya sangat senang melakukan pembelian barang di Causeway Bay, Tung Chung, atau Mongkok. Ketiga pusat perbelanjaan itu adalahyang sangat populer di sana. Barang yang dijual pelbagai dan harganya dapat dibilang murah.

Menjadi seorang perantau pasti saja menciptakan saja rindu dengan Indonesia. Di samping makanan, saya pun rindu dengan iklim di Tanah Air yang terbilang lebih stabil.

Cuaca Hong Kong memang nyaris sama dengan Indonesia yang mempunyai dua musim. Namun tidak jarang terjadi angin puting beliung di sini. Saat musim hujan tiba warga harus tambahan hati-hati sebab sapuan angin besar dapat saja terjadi mendadak.