Covid19 Ditemukan Bersarang di Jantung Pasien Covid19 yang Meninggal

Covid19 Ditemukan Bersarang di Jantung Pasien Covid19 yang Meninggal

Covid19 Ditemukan Bersarang di Jantung Pasien Covid19 yang Meninggal

Covid19 Ditemukan Bersarang di Jantung Pasien Covid19 yang Meninggal

 

Sebuah penelitian mengungkapkan fakta paling baru perihal pasien Covid-19 yang meninggal dunia. Sekitar 75 prosen orang yang meninggal dikarenakan Covid-19 ditemukan menaruh virus SARS-CoV-2 di di dalam jantung mereka.

Orang-orang itu, menurut laporan berasal dari Science, lebih mungkin mengalami irama jantung tidak tertib sebelum kematian dibandingkan bersama dengan pasien tanpa serangan jantung. Penelitian ini beri tambahan pemahaman perihal bagaimana infeksi Covid-19 mampu merusak jantung. pesiarqq pokercc

Ahli patologi kardiovaskular Mayo Clinic Joseph Maleszewski menyebutkan bahwa temuan selanjutnya melukiskan gambaran yang benar-benar baik berasal dari interaksi pada Covid-19 dan masalah jantung. Peneliti miliki banyak bukti perihal gangguan jantung. Beberapa orang, misalnya, menunjukkan peningkatan kandungan troponin. Troponin adalah molekul yang dipancarkan di dalam darah waktu jantung terluka.

Dilansir berasal dari Science Times, Kamis (18/3), menurut ahli patologi kardiovaskular James Stone berasal dari Rumah Sakit Umum Massachusetts, SARS-CoV-2 memakai reaksi berantai polimerase waktu nyata atau RT-PCR. Ia bekerja bersama dengan mendeteksi RNA virus di dalam jaringan sesudah itu menyebabkan banyak salinan DNA darinya.

Begitu tersedia DNA yang memadai, penanda fluoresens atau molekul mampu menempel padanya dan bersinar untuk menampakkan keberadaannya. Namun, Stone menjelaskan, jaringan jantung kerap diolah dan diawetkan lewat penggunaan bahan kimia layaknya parafin yang mampu merusak RNA dan menghambat deteksi.

Stone, bersama dengan timnya, memakai metode tidak serupa yang dikenal sebagai ‘hibridisasi in situ’ dan ‘profil transkriptomik NanoString’. Seperti RT-PCR, pendekatan ini memakai molekul tertentu untuk menempel dan mengidentifikasi potongan RNA virus, meskipun mereka melakukannya tanpa mesti menyebabkan salinan DNA terutama dahulu.

Metode ini mampu mendeteksi RNA virus lebih-lebih terkecuali RNA udah runtuh jadi potongan-potongan yang lebih kecil. Para ilmuwan terhitung menganalisis kurang lebih 1.000 potongan jaringan jantung, lebih berasal dari 20 sampel berasal dari tiap-tiap 41 pasien subjek Covid-19. Ahli patologi kardiovaskular beri tambahan bahwa kuantitas selanjutnya dua kali lipat kuantitas sampel berasal dari setiap pasien di lebih dari satu besar penelitian.

Virus, layaknya yang ditunjukkan di dalam laporan tim di Modern Pathology, ditemukan tersedia di 20 jantung dan hanya pasien ini yang mengalami gangguan fibrilasi atrium baru, baik irama jantung cepat dan tidak teratur, atau detak jantung awal atau ekstra dibandingkan bersama dengan yang lain di belajar. Stone menyebut korelasi semacam itu benar-benar fenomenal.

Penggunaan Steroid Dexamethasone

Masih belum mengetahui apakah Covid-19 secara segera menyerang jantung di dalam masalah ini. Sebagian besar sel jantung yang terinfeksi adalah sel kekebalan, yang mungkin udah diserang oleh SARS-CoV-2 di area lain di tubuh sebelum mereka berpindah ke jantung.

Penelitian ini mampu beri tambahan penjelasan bahwa obat steroid deksametason lumayan membantu untuk lebih dari satu pasien yang parah. Obat itu adalah salah satu yang pertama ditemukan untuk menghambat kematian akibat masalah Covid-19 yang parah.

Stone menyebutkan bahwa obat itu turunkan peradangan dan bersama dengan demikianlah mungkin udah mengekang keberadaan sel-sel kekebalan yang menyembunyikan SARS-CoV-2 di jantung. Hanya setengah berasal dari pasien yang diobati bersama dengan obat selanjutnya ditemukan miliki virus di di dalam jantung mereka, dibandingkan bersama dengan 90 prosen pasien yang tidak memakai deksametason.

Sebuah penelitian mengungkapkan fakta paling baru perihal pasien Covid-19 yang meninggal dunia. Sekitar 75 prosen orang yang meninggal dikarenakan Covid-19 ditemukan menaruh virus SARS-CoV-2 di di dalam jantung mereka.

Orang-orang itu, menurut laporan berasal dari Science, lebih mungkin mengalami irama jantung tidak tertib sebelum kematian dibandingkan bersama dengan pasien tanpa serangan jantung. Penelitian ini beri tambahan pemahaman perihal bagaimana infeksi Covid-19 mampu merusak jantung.

Ahli patologi kardiovaskular Mayo Clinic Joseph Maleszewski menyebutkan bahwa temuan selanjutnya melukiskan gambaran yang benar-benar baik berasal dari interaksi pada Covid-19 dan masalah jantung. Peneliti miliki banyak bukti perihal gangguan jantung. Beberapa orang, misalnya, menunjukkan peningkatan kandungan troponin. Troponin adalah molekul yang dipancarkan di dalam darah waktu jantung terluka.

Dilansir berasal dari Science Times, Kamis (18/3), menurut ahli patologi kardiovaskular James Stone berasal dari Rumah Sakit Umum Massachusetts, SARS-CoV-2 memakai reaksi berantai polimerase waktu nyata atau RT-PCR. Ia bekerja bersama dengan mendeteksi RNA virus di dalam jaringan sesudah itu menyebabkan banyak salinan DNA darinya.

Begitu tersedia DNA yang memadai, penanda fluoresens atau molekul mampu menempel padanya dan bersinar untuk menampakkan keberadaannya. Namun, Stone menjelaskan, jaringan jantung kerap diolah dan diawetkan lewat penggunaan bahan kimia layaknya parafin yang mampu merusak RNA dan menghambat deteksi.

Stone, bersama dengan timnya, memakai metode tidak serupa yang dikenal sebagai ‘hibridisasi in situ’ dan ‘profil transkriptomik NanoString’. Seperti RT-PCR, pendekatan ini memakai molekul tertentu untuk menempel dan mengidentifikasi potongan RNA virus, meskipun mereka melakukannya tanpa mesti menyebabkan salinan DNA terutama dahulu.

Metode ini mampu mendeteksi RNA virus lebih-lebih terkecuali RNA udah runtuh jadi potongan-potongan yang lebih kecil. Para ilmuwan terhitung menganalisis kurang lebih 1.000 potongan jaringan jantung, lebih berasal dari 20 sampel berasal dari tiap-tiap 41 pasien subjek Covid-19. Ahli patologi kardiovaskular beri tambahan bahwa kuantitas selanjutnya dua kali lipat kuantitas sampel berasal dari setiap pasien di lebih dari satu besar penelitian.

Virus, layaknya yang ditunjukkan di dalam laporan tim di Modern Pathology, ditemukan tersedia di 20 jantung dan hanya pasien ini yang mengalami gangguan fibrilasi atrium baru, baik irama jantung cepat dan tidak teratur, atau detak jantung awal atau ekstra dibandingkan bersama dengan yang lain di belajar. Stone menyebut korelasi semacam itu benar-benar fenomenal.

Penggunaan Steroid Dexamethasone

Masih belum mengetahui apakah Covid-19 secara segera menyerang jantung di dalam masalah ini. Sebagian besar sel jantung yang terinfeksi adalah sel kekebalan, yang mungkin udah diserang oleh SARS-CoV-2 di area lain di tubuh sebelum mereka berpindah ke jantung.

Penelitian ini mampu beri tambahan penjelasan bahwa obat steroid deksametason lumayan membantu untuk lebih dari satu pasien yang parah. Obat itu adalah salah satu yang pertama ditemukan untuk menghambat kematian akibat masalah Covid-19 yang parah.

Stone menyebutkan bahwa obat itu turunkan peradangan dan bersama dengan demikianlah mungkin udah mengekang keberadaan sel-sel kekebalan yang menyembunyikan SARS-CoV-2 di jantung. Hanya setengah berasal dari pasien yang diobati bersama dengan obat selanjutnya ditemukan miliki virus di di dalam jantung mereka, dibandingkan bersama dengan 90 prosen pasien yang tidak memakai deksametason.