[Cerpen] Simpul Cinta

[Cerpen] Simpul Cinta

[Cerpen] Simpul Cinta

BANDARQ TERBAIK – Trauma. Mungkin kata tepat yang jadi penyebab ketidakaktifanku di dunia organisasi sekolah. Hanya saja, saat masuk sekolah menengah atas, peraturan mengharuskanku untuk mengikuti setidaknya satu organisasi. Maka aku harus segera menentukan.

“Malas ketemu orang-orang, Ta,” kataku pada Tita salah seorang teman yang baru kutemui di SMA ini.

“Ehm, itu saja?” ia seperti menungguku melanjutkan.

“Waktu kelas empat SD, aku ikut pramuka. Sampe ikut perkemahan juga, diizinin sama mama soalnya ada tetanggaku yang juga anggota pramuka. Tapi di sana aku malah jadi mainannya kakak kelas, Ta,” tanganku terkepal mengingat kesesalanku.

“Emang diapain?” Tita menahan tawa.

“Rambutku biasa diikat pake rumput, terus tali sepatuku diikat sama tali sepatunya, aku yang nggak nyadar, jalan, jatuh, celanaku sampe kelihatan,” aku menggeram, “pokoknya ganggu banget deh, Ta. Makanya, aku takut banget ikut-ikut pelatihan organisasi kayak gini, pasti ada aja senior yang bakalan gangguin.”

“Tapi kita mesti ikut,” Tita menghela nafas bersamaan denganku. “Jadi mau ikut yang mana?”

Diskusi kami berakhir. Aku harus memikirkan lebih dalam lagi. Sepulang sekolah, aku bertemu dengan Anis, tetanggaku yang tahun ini lulus SMA. Dan dari sana ia mengusulkanku ikut pramuka.

“Kamu nggak perlu lagi beli peralatan, pake punya aku saja,” kata Anis senang.

Dan aku menggangguk. Kembali mendiskusikan dengan Tita.

“Aku juga mau ngusulin itu,” Tita menggerakkan alisnya. “Katanya pramuka lebih tenang, nggak ada senior yang macam-macam, dan orangnya serius-serius.”

Aku mengembungkan pipi. Perlahan mengangguk. Dan sore harinya, aku dan Tita mengumpul formulir pendaftaran. Setidaknya kata Tita, kami hanya perlu bersabar selama setahun, dan bisa keluar di kelas dua nanti, kalau memang tidak sanggup lagi.

***

Hari pertama pertemuan, semua calon anggota berkumpul di lapangan, mendengar beberapa kata dari seorang pria berkacamata yang memperkenalkan dirinya sebagai wakil ketua ambalan. Aku melirik Tita yang sudah berdiri tak sabaran di sebelahku.

“Kenapa, Ta?” tanyaku takut kalau Tita pingsan.

Ia lalu cekikikan, “itu tipeku. Cowok berkacamata, serius, dan kelihatannya pintar.”

Aku menjulurkan lidah, tertawa kecil, tahu alasan Tita ikut.

Setelah hampir satu jam berdiri, si pria berkacamata mengakhiri, setelah memberi pengumuman tentang pelatihan dasar besok. Besok sabtu, seharusnya hari libur, tapi aku harus datang dengan kaos hitam, celana training, dan beberapa perlengkapan penting lainnya. Ah, hari tenangku berakhir sudah.

Esok harinya saat aku masuk ke lingkungan sekolah bersama Tita yang menungguiku di depan gerbang, merasakan pertambahan jumlah calon anggota, tidak seperti hari kemarin. Aku dan Tita saling lihat. Mata kami lalu tertuju ke panggung di pinggir lapangan, terdengar suara ramah yang berbicara dengan mikrofon.

Kami lalu mendekat. Berdiri di bagian belakang. Sambil mendengar suara, tawa, dan pujian yang keluar dari gadis-gadis di sekitar kami.

“Katanya baru bisa datang, soalnya habis ikut Rainas di luar kota. Beneran ganteng banget yah?” salah satu dari mereka meminta persetujuan.

“Iya, temenku ada yang masuk gegara lihat dia kemarin pake seragam lengkap, keren banget,” ia cekikikan. “Sekarang dia mau nyanyi, mau semangatin junior.”

Aku melirik Tita yang memajangkan lehernya, mencoba lihat, dan sedetik berikutnya ia melihatku, menggeleng. Aku tersenyum kecil.

“Bukan tipeku,” katanya dan duduk memperlihatkan isi tasnya yang berisi banyak makanan ringan.

Aku ikut menjongkok. Sesekali mendongak pada punggung yang semakin histeris dengan lagu yang telah mengalun. Aku ikut mengecek bawaanku, “aku jadi agak semangat pas nyiapin barang-barang, apalagi nginget kalau malam ini kita bakalan tidur di alam terbuka.”

Tita menepuk bahuku, “jiwa organisasimu sudah kelihatan,” ia menggerakkan kepalanya.

“Oh iya, aku bawa tiga baju ganti. Kamu nggak lupa kan? Kita mesti melintas gunung, lari di tanah becek,” ia mengingatkanku.

Aku mengangguk. Memperhatikan Tita mengatur rambut pendeknya. Ia lalu melihati rambutku yang terurai, “bakalan kotor.”

“Ah,” aku teringat, mulai mencari ikat rambut di tas. “Tita, ada karet gelang?” tanyaku dan mendapati gelengan Tita.

Aku menghela nafas. Mengabaikan sepatu yang mendekat ke arah kami menjongkok.

“Cari apa?”

“Ikat rambut,” Tita yang menjawab, tahu aku tidak terbiasa pada orang yang baru kenal.

“Sini, biar gue yang ikat….”

Aku segera menggeleng, saat rambutku disentuh. “Terimakasih, tapi nggak…” aku mendongak, mendapati wajah pria yang menyebakan traumaku dan telah membuatku pasif di dunia sosial, aku mundur, membuatku jatuh terduduk, “wah, ngapain lo di sini?!” teriakku histeris, ketakutan.

Semua pandangan lalu terarah padaku, sepertinya aku baru saja berbicara tidak sopan pada idola mereka. “Dia nggak sopan banget sama kak Rian,” mereka sepertinya mulai mengutuk.

Aku menelan ludah. Mencoba menghindar saat pria bernama Rian yang entah seberapa besar perubahan formasi tubuhnya itu ikut menjongkok.

“Hey, Honey, gue dengar dari kak Anis, Honey juga bakalan masuk pramuka.”

Aku tersenyum kaku, “bukan urusan lo,” gumamku dan mendapati tatapan penuh tanya Tita di hadapanku. Dan aku tersadar dengan tatapan orang lainnya, ah, pria ini baru saja menyebutkan dengan honey, dengan pronunciationnya yang perfect. “Namaku Hani,” kataku cepat, mencoba menjelaskan, “dan kami nggak ada hubungan apa pun.”

Namun kalimatku terbantahkan oleh tingkah Rian selanjutnya. Ia mulai melepas gelang tali di tangannya, membuka simbul yang membentuk gelang itu, dan mulai menyatukan rambutku.

Oh God, dia mulai lagi. Aku mencoba menepis tangannya dan ia segera menegurku, memintaku tenang. Dan kudapati senyum Tita. “Dia ini lagi ganggu aku, Ta,” mencoba meminta belas kasihnya.

Lalu, “Selesai,” Rian menepuk puncak kepalaku, “gue udah lama nunggu, kali ini Honey jangan kabur lagi, yah,” katanya dan hanya melambaikan tangan pada pertanyaan gadis-gadis dan teman-temannya tentang siapa aku.

Aku mengerutkan kening, melihatnya berjalan menjauh, mencoba menebak gangguan apa lagi yang akan dilakukannya. “Lihat, Ta. Hidupku beneran nggak bakalan tenang lagi. Aku nggak tahu kalau dia juga ikut pramuka, pantes aja kak Anis bilang ada kejutan.”

Tita tertawa kecil, meraih tanganku yang berusaha melepas ikatan di rambutku. “Jangan dilepas. Simpulnya cantik banget, Hani.”

“Eh?” keningku terangkat, bukannya biasanya Rian hanya mengikat asal-asalan. Aku mengangkat kepalaku, melihat ke arah pria yang sekarang melambaikan tangannya padaku.

BANDARQ TERBAIK