Cerita Patung Menari Sigale-gale dari Pulau Samosir

Cerita Patung Menari Sigale-gale dari Pulau Samosir

Cerita Patung Menari Sigale-gale dari Pulau Samosir

 

Cerita Patung Menari Sigale-gale dari Pulau Samosir

 

LudoQQ pokerace99 – di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) menjadi salah satu destinasi favorit yang banyak dikunjungi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Samosir adalah sebuah pulau vulkanik di tengah Danau Toba.

Tak cuma mampu nikmati keindahan Danau Toba, terkecuali singgah ke Pulau Samosir juga mampu menyaksikan segera kebudayaan dan beberapa kepercayaan-kepercayaan yang masih diyakini oleh masyarakat sekitar.

Salah satunya adalah mengenai peristiwa Patung Sigale-gale, merupakan patung kayu yang menari dan udah tersedia sejak zaman kerajaan Suku Batak di Pulau Samosir

Seorang pemuka rutinitas di Pulau Samosir, Parlindungan Situmorang mengatakan, Sigale-gale adalah sebuah patung kayu yang awalnya digunakan di dalam pertunjukkan tari untuk ritual penguburan jenazah Suku Batak.

“Namun saat ini, tarian Sigale-gale banyak dipertontonkan, bahkan diikuti oleh para wisatawan baik dari di dalam negeri maupun luar negeri,” kata Parlindungan, Kamis (12/9/2019).

Parlindungan mengutarakan dahulu diyakini bahwa Sigale-gale menari dikarenakan adanya roh dari jenazah yang bakal dikubur tersebut. Namun saat ini, sepanjang menari-nari, patung dikendalikan oleh seorang pemain dari belakang.

“Sigale-gale asalnya dari tempat Tapanuli Utara dan sesudah itu menyebar ke Pulau Samosir. Penduduk di Samosir menyebutnya Raja Manggale,” jelasnya.

Manggale adalah raja yang bersedih dikarenakan kehilangan seorang anak. Untuk membuat sembuh kesedihannya, dia sebabkan sebuah patung. Patung selanjutnya dahulu dipercaya mampu menari sendiri, dan sebabkan sang raja puas dikarenakan jadi anaknya masih hidup.  LudoQQ pokerace99

Awal Mula Tradisi Sigale-gale

Sigale-gale awalnya dipergunakan pada upacara-upacara kematian. Upacara untuk orang-orang yang meninggal tanpa membawa anak maupun yang meninggal tanpa meninggalkan keturunan dikarenakan semua anaknya udah tiada.

“Upacara selanjutnya diadakan, khususnya misalnya orang yang meninggal membawa kedudukan tinggi di dalam masyarakat, layaknya raja-raja, dan para tokoh masyarakat,” terang Parlindungan.

Hal itu dikerjakan bersama maksud menyambung keturunan mereka kelak di alam baka. Pada masyarakat Batak Toba, misalnya seseorang yang membawa kedudukan meninggal dunia dan ia tidak membawa keturunan maka dipandang rendah dan tidak membawa kebaikan.

Oleh dikarenakan itu, kekayaan yang ditinggalkannya bakal dihabiskan untuk mengadakan upacara Sigale-gale untuk orang yang meninggal tersebut. Orang lain tidak bakal berani menyita harta benda milik orang selanjutnya dikarenakan takut tertular atau meninggal layaknya pemiliknya.

Pada jaman sekarang, upacara-upacara Sigale-gale udah jadi ditinggalkan dikarenakan banyak yang berpendapat upacara selanjutnya dianggap sebagai upacara keagamaan parbegu, suatu upacara yang didasarkan pada keyakinan pada begu atau roh dari orang yang udah meninggal.

“Saat ini Sigale-gale dipertunjukkan untuk memperkenalkan kepada wisatawan. Kami sebagai Suku Batak senang, dikarenakan budaya yang dimiliki ternyata disukai dan disenangi orang. Apalagi tiap tiap tahun, tersedia jutaan wisatawan singgah ke Pulau Samosir untuk menyaksikan pertunjukan dari Sigale-gale,” Parlindungan menandaskan.