Cerita di Balik Punden Kapasan Dalam, Yang Kurang Ajar Pasti Kesurupan

Cerita di Balik Punden Kapasan Dalam, Yang Kurang Ajar Pasti Kesurupan

Cerita di Balik Punden Kapasan Dalam, Yang Kurang Ajar Pasti Kesurupan

Cerita di Balik Punden Kapasan Dalam, Yang Kurang Ajar Pasti Kesurupan

Malam pertengahan 1968, Gunawan Djaja Seputra duduk seorang diri di teras punden Kapasan Dalam di Jalan Kapasan Dalam, Simokerto. Ketika itu dia masih berusia 17 tahun. Saat Gunawan melamun, sosok seorang pemuda tiba-tiba muncul di hadapannya.Daftar di sini

Menurut Gunawan, makhluk tersebut berwajah rupawan, berkulit putih, tinggi, bersih, dan wangi. Karena kaget, lidah Gunawan kelu. Pertemuan berjalan singkat. Kurang dari satu menit, sang penunggu kembali masuk ke punden dan menghilang dari hadapannya. ”Tolong jagain punden,” ucap Gunawan menirukan pesan yang disampaikan kepadanya.

Sejak itu, hampir setiap hari Gunawan menyempatkan waktu datang ke punden meski hanya sebentar. Di sana dia berdoa, memberikan sesajen, dan membersihkan punden. ”Warga tidak dilarang bermain di punden, tapi harus berperilaku sopan. Kalau tidak, penunggu akan marah dan berakibat fatal bagi orang yang bersangkutan,” ungkap pria kelahiran Surabaya, 26 April 1951, tersebut.

Puluhan tahun lalu, ada kejadian seorang pemuda berusia belasan tahun dengan sengaja mengambil sesajen di punden. Dia juga seolah-olah menantang penunggu punden. Namun, tak lama kemudian, pemuda itu tiba-tiba kesurupan. Dia berlari-lari sambil tertawa terbahak-bahak. Tidak hanya sampai di situ. Beberapa keganjilan lain juga pernah terjadi. Dampaknya bahkan lebih besar, hingga merenggut nyawa.

Ketika itu ada orang yang tanpa izin menebang pohon hingga habis di seputaran punden. Setelah menebang pohon, selang beberapa hari kemudian, orang tersebut meninggal. Peristiwa itu sudah berkali-kali terjadi. Karena menebang pohon sembarangan di punden, dua hingga empat orang meninggal secara mendadak.

”Sebenarnya penunggu punden itu baik dan tidak meminta apa-apa. Termasuk sesajen. Ia juga tidak pernah mengganggu warga. Baik itu warga setempat maupun orang luar. Tapi, kalau ada yang mengusik, ia pasti langsung marah. Pasti ada ganjaran bagi orang yang mengganggu,” tuturnya mewanti-wanti.

September merupakan ulang tahun punden Kapasan Dalam dan harus ada perayaan. Jika tidak, musibah akan menimpa warga setempat. Hal itu pernah terjadi. Gunawan menceritakan bahwa dulu pernah satu kali tidak ada perayaan peringatan ulang tahun punden. Akibatnya, kebakaran hebat terjadi.

Pria 69 tahun itu menegaskan, ritual tidak boleh diadakan sembarangan. Menyelenggarakan pertunjukan wayang kulit, misalnya. Tema yang dimainkan hanya seputar cerita-cerita sejarah Jawa dan Tionghoa. Dulu pernah ada warga yang menghelat pertunjukan wayang bertema Pendowo Pitu. Mengetahui ada yang menyimpang, lagi-lagi Gunawan pun mengingatkan orang yang bersangkutan. Dia menyarankan untuk menyuguhkan wayang Pandawa Lima. Namun, orang itu tidak memedulikan omongan Gunawan. Wayang Pendowo Pitu tetap dimainkan. Akibatnya, beberapa hari kemudian setelah perayaan, rumah orang yang bersangkutan mengalami kebakaran. ”Tahun ini perayaan belum dilakukan karena tengah pandemi Covid-19. Jadi, takut mengundang keramaian. Tapi, informasi yang didapat, meski tidak ada pergelaran wayang kulit, perayaan tetap dilakukan dengan selametan sederhana,” jelasnya.

Gunawan mengungkapkan, punden Kapasan Dalam telah berusia lebih dari satu abad. Menurut cerita nenek moyang, punden merupakan tempat yang sangat sakral. Waktu zaman peperangan, keberadaan punden membuat Kampung Kapasan Dalam terbebas dari serangan sekutu. Tembakan atau bom yang mengarah ke Kampung Kapasan Dalam secara otomatis akan tertolak. Tidak bisa menembus benteng pertahanan Kampung Kapasan Dalam. Karena itulah, punden harus tetap dirawat dan dijaga. Jangan sampai punden rusak atau kotor karena telah berjasa besar bagi Kampung Kapasan Dalam, Simokerto.

TENTANG PUNDEN KAPASAN DALAM

  • Tidak ada yang tahu waktu berdirinya punden tersebut. Namun, usianya diyakini sudah lebih dari seabad.
  • Pada zaman penjajahan, punden Kapasan Dalam dipercaya bisa menahan serangan musuh.
  • Setiap September, warga sekitar melakukan perayaan berupa sedekah bumi yang dilanjutkan dengan pertunjukan wayang.
  • Warga luar Surabaya kerap mengunjungi dan berdoa di punden Kapasan Dalam.