Bunuh Diri Tidak Selalu Disebabkan oleh Depresi, Ini Faktor Lainnya

Bunuh Diri Tidak Selalu Disebabkan oleh Depresi Ini Faktor Lainnya

Bunuh Diri Tidak Selalu Disebabkan oleh Depresi, Ini Faktor Lainnya

 

Bunuh Diri Tidak Selalu Disebabkan oleh Depresi, Ini Faktor Lainnya

Tuntutan hidup di zaman serba cepat seperti kini ini tak dapat dipungkiri dapat membuat seseorang merasa frustrasi. Belum lagi tingkat kompetisi pun semakin tinggi. Ditambah dengan adanya media sosial membuat tidak sedikit orang berlomba-lomba hendak menunjukkan keberadaan jika dirinya lebih baik dan sempurna dibanding orang lain. Tekanan-tekanan semacam ini tak jarang dapat membuat orang nekat mengerjakan percobaan bunuh diri, terlebih bila dirinya tidak mempunyai tempat guna berkeluh kesah.

Beberapa orang barangkali ada yang beranggapan jika pelaku bunuh diri nekat mengerjakan tindakan tersebut sebab pemahaman agamanya tidak cukup kuat. Sebab seluruh agama membangkang bunuh diri dan mengklasifikasikannnya sebagai dosa berat. Namun nyatanya tidak tidak jarang kali demikian. Ada pula orang yang mengerjakan percobaan bunuh diri walau tahu tindakan tersebut salah.

“Setiap orang punya hal risiko dan hal protektif guna bunuh diri. Faktor protektif di antaranya ialah agama. Mereka bila ditanya, rata-rata tahu andai agamanya tidak mengizinkan untuk bunuh diri dan rata-rata menuliskan menghayati agama dari skala 1-10 menjangkau skor 8 bahkan 10. Tapi kekuatan agama tidak memblokir potensi seseorang guna bunuh diri sebab ada hal lain,” ungkap dokter spesialis kejiwaan, Dr. dr Nova Riyanti Yusuf, SpKJ

Sedangkan untuk hal risiko, dokter yang baru saja meraih gelar doktor di bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia tersebut mengatakan andai depresi saja tidak lumayan untuk menebak seseorang memiliki gagasan atau berkeinginan bunuh diri. Dirinya mengembangkan instrumen riset untuk mendeteksi dini hal risiko gagasan bunuh diri. Instrumen tersebut ada 4 dimensi yakni burdensubness, belongingness, loneliness, dan hopelessness.

Dimensi burdensubness dimana seseorang merasa menjadi beban untuk orang lain. Lalu dimensi belongingness dimana seseorang merasa tidak menjadi unsur dari apapun yang penting. Dimensi loneliness dimana seseorang merasa kesepian. Dimensi hopelessness dimana seseorang merasa tidak berdaya.

Satu urusan yang butuh digarisbawahi, seseorang yang mempunyai salah satu atau lebih dari keempat dimensi ini berpotensi guna bunuh diri meskipun sebelumnya mereka tidak menunjukkan fenomena depresi. Di samping itu, terdapat warning sign yang mesti diwaspadai oleh orang-orang selama untuk menangkal terjadinya bunuh diri.

“Warning sign sebelum orang mengerjakan percobaan bunuh diri antara beda seseorang yang merasa capek dengan kehidupan, menuliskan lelah, mohon maaf tanpa terdapat masalah, dan terkadang izin pergi. Pokoknya terdapat sesuatu yang bertolak belakang dan terasa tidak wajar. Memang orang-orang di sekitarnya mesti lebih waspada dan memerhatikan,” jelas dokter yang akrab disapa Noriyu itu.

Dokter Noriyu mengatakan, terkadang tidak sedikit orang yang menyadari andai ada sesuatu yang terjadi pada orang di sekitarnya. Namun mereka memilih guna tidak memerhatikan dan tidak memedulikan. Mereka ingin enggan menyaksikan tanda-tanda itu sebagai sesuatu yang tidak wajar. Hal ini disebabkan mereka denial dan tidak inginkan mengakui.

“Oleh karenanya anda harus menjadi lebih sensitif terhadap orang-orang di dekat atas peristiwa yang terjadi padanya. Sebab enggak seluruh orang punya masalah A namun reaksinya B. Semua orang punya gaya penerimaan yang bertolak belakang dan berikut yang mesti dapat disikapi oleh keluarga, sensitif, memerhatikan supaya tidak terjadi tindak bunuh diri,

BACA JUGA :

Minuman Manis dan Jus Buah Kemasan Bisa Risiko Kanker Payudara