Berikut 6 Fakta Klinik Aborsi Tak Berizin di Paseban

Berikut 6 Fakta Klinik Aborsi Tak Berizin di Paseban

Berikut 6 Fakta Klinik Aborsi Tak Berizin di Paseban

Berikut 6 Fakta Klinik Aborsi Tak Berizin di Paseban

Sub Direktorat 3 Sumber Daya Lingkungan (Sumdaling) Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Metro Jaya menggerebek sebuah klinik aborsi ilegal pada Senin, 10 Februari 2020 Agodapoker poker republik .

Klinik aborsi ilegal itu beralamat di Jalan Paseban Raya Nomor 61, Paseban, Senen, Jakarta Pusat. Saat penggerebekan, aparat kepolisian sukses mengamankan tiga orang yang lantas ditetapkan sebagai tersangka.

“Pertama laki-laki inisial MM, dua kembali perempuan inisial RM dan SI,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus, Jumat 14 Februari 2020.

Diketahui, klinik aborsi ilegal itu udah beroperasi sejak 2018 silam. Total udah 21 bulan mereka menggerakkan aksinya. Dan sepanjang beroperasi, tidak tidak cukup para tersangka sukses meraup keuntungan hingga Rp 5,5 miliar.

“Total sepanjang 21 bulan, pernyataan hampir Rp5,5 miliar lebih keuntungan yang didapat yang bersangkutan,” kata Yusri, seperti dilansir Antara.

Berikut fakta-fakta klinik aborsi ilegal di Jalan Paseban Raya :

Tak Miliki Izin dan Tetapkan 3 Tersangka

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus menjelaskan, klinik aborsi ilegal itu tidak memiliki izin lakukan praktek kedokteran.

“Ini pengungkapan praktek aborsi yang tidak memiliki izin, lantas terhitung tidak memiliki izin lakukan praktek kedokteran,” kata Yusri, seperti dilansir Antara.

Dia mengatakan, di dalam penggerebekan klinik ilegal itu petugas turut mengamankan tiga orang yang lantas ditetapkan sebagai tersangka.

“Pertama laki-laki inisial MM, dua kembali perempuan inisial RM dan SI,” ucap Yusri.

Miliki Peran Berbeda

Yusri menjelaskan, di dalam aksinya, ketiga pelaku memiliki peran berbeda. Tersangka RM berperan sebagai bidan, SI sebagai petugas administrasi, dan MM yang bertugas sebagai dokter.

“Tersangka MM itu dokter asli, dia lulusan di salah satu Universitas di Sumatera Utara. Tapi tidak memiliki spesialis apalagi spesialis kandungan. Dia pernah bekerja sebagai PNS di Riau, gara-gara jarang masuk dipecat,” ujar Yusri

Raup Keuntungan Miliaran Rupiah

Menurut Yusri, diketahui klinik aborsi ilegal itu meraup keuntungan sebesar Rp 5,5 miliar. Keuntungan itu didapat dari operasional klinik sepanjang 21 bulan.

“Total sepanjang 21 bulan, pernyataan hampir Rp5,5 miliar lebih keuntungan yang didapat yang bersangkutan,” ujar Yusri, dilansir Antara.

Dijelaskan Yusri, klinik ilegal ini mematok harga terasa dari satu hingga Rp 15 juta.

“Tarif tersedia yang berdasarkan satu bulan, dua bulan, tiga bulan. Sebulan Rp 1 juta, dua bulan Rp 2 juta, tiga bulan Rp 3 juta, di atas itu Rp 4 juta hingga Rp 15 juta,” papar Yusri.

Ribuan Pasien dan Janin Dibuang di Septic Tank

Menurut Yusri, janin yang dikeluarkan di klinik aborsi ilegal di Paseban itu biasa dibuang di septic tank.

“Janin biasa ditemukan di septic tank,” kata Yusri dikutip Antara.

Polisi menggerebek klinik aborsi ilegal ini pada Senin, 10 Februari 2020 dan mendapatkan janin yang diperkirakan berusia sekitar enam bulan.

“Barang bukti yang kami temukan salah satunya adalah janin berusia enam bulan,” ucapnya, seperti dikutip dari Antara.

Yusri menyebut, kebanyakan pasien klinik adalah mereka yang lakukan aborsi gara-gara hamil di luar nikah dan tuntutan pekerjaan.

“Rata-rata yang aborsi gara-gara hamil di luar nikah. Ada yang gara-gara kontrak kerja yang mengharuskan tidak hamil, atau gagal KB,” terang dia.

Saat penggerebekan petugas terhitung mendapatkan daftar 1.632 nama yang pernah jadi pasien di klinik itu, dengan 903 di pada menggugurkan kandungannya di klinik itu.

Libatkan Puluhan Bidan

Penyidik Polda Metro Jaya mendalami informasi perihal sejumlah oknum dokter yang mengirimkan pasien mereka ke klinik ilegal di Paseban, Jakarta Pusat untuk aborsi.

Yusri mengatakan, informasi itu didapat dari tiga tersangka yang diamankan saat polisi menggerebek klinik tersebut.

“Keterangan awal yang bersangkutan tersedia beberapa dokter yang lakukan aborsi, lakukannya di sini, di bawa ke klinik ini, saat ini klinik ilegal,” kata Yusri, seperti dilansir Antara.

Ia memperlihatkan tidak menutup bisa saja terdapatnya tersangka baru di dalam kasus itu. Yusri menyebut, sekitar 50 oknum bidan terhitung mengirim pasiennya ke klinik ilegal tersebut.

“Jaringan ini mereka memiliki jaringan hingga 50 bidan yang tersedia di luar, dan tetap tersedia pengembangan yang dilakukan dengan kontrol beberapa dokter yang ada,” terang dia.

Kena Pasal Pencucian Uang

Yusri menegaskan, pihak kepolisian akan menjerat tiga tersangka yang mengoperasikan klinik aborsi ilegal di Paseban, Jakarta Pusat, dengan Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

“Kita masukkan UU TPPU gara-gara dia praktek memadai lama dengan keuntungannya,” kata Yusri, dikutip dari Antara.

Yusri mengatakan UU TPPU akan dikenakan kepada tiga tersangka itu gara-gara duwit yang dikeruk oleh aktivitas ilegal klinik itu benar-benar besar.

Keuntungan yang didapat dari operasional klinik ilegal itu sepanjang 21 bulan menggapai Rp 5,5 miliar.

“Total sepanjang 21 bulan, pernyataan hampir Rp5,5 miliar lebih keuntungan yang didapat yang bersangkutan,” pungkas Yusri.