Benarkah Orang Jahat Adalah Orang Baik yang Tersakiti

Benarkah Orang Jahat Adalah Orang Baik yang Tersakiti

Benarkah Orang Jahat Adalah Orang Baik yang Tersakiti

 

Benarkah Orang Jahat Adalah Orang Baik yang Tersakiti

Cerdaspoker DominoQQ  –  Film Joker menjadi pembicaraan pelik yang kesudahannya jadi polemik. Dengan sampel kehidupan Arthur Fleck yang suram, tidak sedikit penonton membenarkan andai orang jahat ialah orang baik yang tersakiti. Benarkah demikian?

Sementara, Thomas Wayne yang dicerminkan sebagai pahlawan Gotham pun dapat berlaku buruk untuk Arthur. Thomas Wayne dicerminkan memperburuk keadaan Gotham yang sedang kacau-balau.

Ia juga menyebut rakyat yang tak mengerjakan apa-apa sebagai badut. Hal tersebut membuat rakyat yang sakit hati benar-benar jadi badut dan melakukan onar. Lantas, apa pesan bahwasannya film Joker ini?

Film Joker garapan Todd Phillips menjadi pembicaraan pelik yang kesudahannya jadi polemik. Dengan sampel kehidupan Arthur Fleck yang suram, tidak sedikit penonton membenarkan andai orang jahat ialah orang baik yang tersakiti. Benarkah demikian? Mari, anda runutkan (dengan tidak banyak spoiler).

Pertama, Arthur Fleck digebukin oleh sekumpulan pemuda begajulan. Alasannya, saat tersebut Arthur jadi badut dan terlihat konyol, sampai-sampai anak-anak nakal tersebut merasa layak memperlakukan sang badut dengan buruk. Namun, sesudah kejadian itu, Arthur masih dapat memaafkan dan memaklumi kelakuan semua ABG labil itu. Arthur orang baik dan pemaaf.

Masalahnya, atasan Arthur tidak inginkan tahu dengan kejadian buruk yang menimpa bawahannya itu dan menyerahkan sanksi: potong gaji. Sementara, teman kerja Arthur malah menjerumuskannya dengan menyerahkan senjata api yang lantas jadi biang kerok.

Selayaknya laki-laki pada umumnya, Arthur punya keluarga, pekerjaan, teman kerja, cita-cita, idola, rekan curhat, dan cewek yang disukai. Namun, satu persatu urusan berharga dalam hidupnya terenggut. Arthur dipecat dari pekerjaannya, sebab kedapatan bawa senpi sewaktu aksi jadi badut di depan anak-anak. Ternyata teman kerjanya juga mengkhianatinya, dengan melaporkan untuk sang bos bahwa Arthur memang menyimpan senpi.

Sejak kecil, Arthur sesumbar hendak menjadi pelawak, seluruh teman yang mendengarkannya ikut menertawakan cita-citanya. Namun, saat dewasa, ketika Arthur melawak, tak terdapat yang tertawa. Tragedi dalam komedi tersebut justru jadi materi ejekan oleh seorang pembawa acara talkshow mempunyai nama Murray Franklin yang adalahidola Arthur. Semangat Arthur guna menjadi pelawak tunggal juga dipadamkan oleh idolanya sendiri.

Belum lumayan sampai situ, Arthur mesti kehilangan rekan curhat yang tak lain ialah petugas konseling. Psikiater tersebut mengaku tidak dapat menangani masalah kejiwaan Arthur lagi, sebab Pemkot Gotham menghentikan pertolongan pendanaan. Mungkin sebab kesadaran pemerintah dengan kesehatan mental masyarakat masih minim, atau APBD Gotham sendiri sedang defisit.

Tapi memang, sekitar ini psikiater tersebut juga tidak benar-benar memperhatikan keluhan Arthur. Bukannya membantu, justru buat makin rumit keadaan hati Arthur. Sebuah kritik guna tenaga kesehatan yang sering diskriminatif untuk pasien pemakai BPJS Kesehatan. Hehehe.

Cewek yang digemari Arthur ternyata hanyalah kekasih bayangan. Kejadian romantis antara Arthur dan sang pujaan hati melulu terjadi dalam kepalanya saja. Akibat dari penyakit Arthur yang membuatnya tidak jarang berhalusinasi.

Puncaknya, ketika Arthur menyadari bahwa ibunya bukanlah ibunya. Mirip laksana judul sinetron religi bertajuk taubat, memang. Namun, kenyataan ini malah membuat Arthur merasa tidak punya siapa-siapa lagi. Sebagai orang yang telah tak punya apa-apa, Arthur menyatakan tidak dapat disakiti lagi.

Dari rentetan kejadian kelam itu, Arthur memilih menjadi Joker. Padahal, hidup tersebut pilihan dan menjadi Joker bukanlah opsi satu-satunya. Misalnya, saat main kartu remi saja, di samping Joker, terdapat Jack, King, dan Queen.

Setiap orang tidak jarang kali punya pilihan guna menjadi jahat atau baik. Memaafkan atau menjawab dendam. Yang hidupnya kelam tidak melulu Arthur Fleck. Sebetulnya nyaris setiap karakter DC Comics mempunyai masa kecil yang suram.

Alter ego Shazam ialah anak yang ditinggalkan oleh ibu kandungnya semenjak balita, sampai-sampai membuatnya bermukim di panti asuhan. Superman ialah bayi alien yatim piatu yang kedua orang tua dan planet asalnya meledak. Barry Allen the Flash menonton sendiri ibunya dibunuh oleh makhluk misterius dan ayahnya malah dipenjara untuk durjana yang tidak pernah dilakukannya. Semesta DC memang sekejam itu.

Yang bermukim sekota dengan Arthur Fleck, yakni Bruce Wayne, mesti kehilangan kedua orangtuanya yang dibunuh perampok di depan matanya. Bruce masih insan biasa. Bruce sempat marah dengan takdirnya. Namun, bilamana dia masih bertahan dengan dendamnya, kedua orangtuanya di akhirat tentu sedih. Maka, dia bangkit menjadi ksatria kegelapan dan memperjuangkan keadilan di kotanya. Agar tidak terdapat anak yang bernasib sama dengannya.

Di semesta DC, pahlawan dan penjahat dipisahkan dengan batasan yang jelas: keadilan. Superhero superkaya laksana Batman berjuang untuk tidak membunuh musuhnya sebab kematian belum tentu suatu keadilan. Sementara, Joker merasa berhak menyelesaikan nyawa orang dengan main hakim sendiri.

Tidak perlu menantikan disakiti guna jadi jahat, setiap insan memang mempunyai dua sisi, baik dan buruk. Mungkin melulu Rifat Sungkar saja yang punya satu sisi, yakni Sissy Priscillia.

Jadi, orang yang dinilai baik bisa melakukan jahat. Begitu pula orang yang sangat jahat juga masih dapat berlaku baik. Sebenarnya masih terdapat sisa-sisa kebajikan dalam diri Arthur. Ketika telah bertransformasi menjadi Joker yang bengis, Arthur masih mengawal mantan teman kerjanya yang baik kepadanya guna tetap hidup.

Sementara itu, Thomas Wayne yang dicerminkan sebagai pahlawan Gotham pun dapat berlaku buruk untuk Arthur yang mohon klarifikasi kepadanya. Thomas bukannya jawab baik-baik, justeru meninju hidung Arthur.

Thomas Wayne dicerminkan memperburuk keadaan Gotham yang sedang kacau-balau dengan pernyataannya yang tak peka. Menyebut rakyat yang tak mengerjakan apa-apa sebagai badut. Sehingga, menciptakan rakyat yang sakit hati benar-benar jadi badut dan melakukan onar. Kasus ini serupa dengan semua pejabat di suatu negeri yang sering blunder saat berkomentar mengenai krisis, konflik, dan bencana yang menimpa masyarakat.

Namun, kekacauan bukanlah urusan yang patut dirayakan. Pun, durjana tidak dapat jadi pembenaran melulu karena anda pernah tersakiti. Dengan meneladani superhero anggota Justice League, kita mesti berlaku adil. Kejahatan harus dihukum, kebajikan mesti disebarkan.

Pesan film Joker sebetulnya jelas. Berlakulah baik untuk setiap orang yang anda temui. Sebab, anda tidak tahu apa yang sudah ia lewati hingga ke titik ini.

Jika memang orang jahat dapat terlahir dari orang baik yang tersakiti, kenapa tidak gunakan logika sebaliknya? Orang jahat dapat menjadi orang baik andai diperlakukan dengan baik dan adil.

Keadilan berikut yang berjuang diperjuangkan oleh DC semenjak awal. Makanya disusun Justice League atau Liga Keadilan, bukan Judging League atau Liga Penghakiman.