Alasan Siswa Perlu Matikan Kamera Video saat Belajar Daring

Alasan Siswa Perlu Matikan Kamera Video saat Belajar Daring

Alasan Siswa Perlu Matikan Kamera Video saat Belajar Daring

Alasan Siswa Perlu Matikan Kamera Video saat Belajar Daring

Selama pandemi Covid-19 berlangsung, banyak siswa terpaksa mengikuti proses pembelajaran jarak jauh melalui kelas daring. Berbagai aplikasi telekonferensi menjadi sangat penting dalam hal ini.
Umumnya, para tenaga pengajar menggelar telekonferensi dengan sejumlah siswanya saat proses belajar mengajar. Siswa diminta hadir dan tampil rapi dalam video kelas daring.

Tabitha Moses, seorang peneliti yang mempelajari perilaku dan otak, menemukan bahwa kelas daring menimbulkan berbagai tantangan untuk siswa. Utamanya, jika siswa diminta untuk tampil memperlihatkan dirinya dan membiarkan kamera mereka menyala selama kelas belajar.

Alih-alih terus tampil dalam video, Moses beranggapan bahwa siswa sebaiknya bisa diizinkan untuk tak selalu menyalakan kameranya saat proses belajar. Berikut beberapa alasannya, melansir SenjaQQ.

1. Meningkatkan kecemasan dan stres
Saat kelas daring, siswa diharapkan untuk tetap fokus pada pembelajaran melalui video. Dalam video, siswa juga tetap diminta memperhatikan setiap interaksi yang terjadi.

Hal tersebut, kata Moses, dapat menimbulkan rasa terancam dan tidak nyaman pada siswa. Siswa akan merasa semua orang seolah-olah sedang menontonnya dan mengganggu fokus belajar. Siswa akan fokus pada bagaimana penampilannya di depan orang lain.

Ketidaknyamanan diperkuat oleh fakta bahwa wajah yang muncul di layar sering kali terlihat begitu besar dan dekat. Hal ini memicu respons tubuh yang berusaha melawan dan membuat siswa merasa gelisah.

2. Kelelahan
Kelelahan yang terjadi tentu tak sama dengan jenis-jenis kelelahan pada umumnya. Sains menunjukkan bahwa keterlibatan video yang konstan dapat memperburuk rasa lelah.

Interaksi yang dilakukan secara daring menghilangkan isyarat-isyarat nonverbal. Hal ini mengharuskan seseorang bekerja lebih keras untuk menafsirkan apa yang mereka lihat. Sementara dalam interaksi daring, seseorang pasti akan fokus pada isyarat verbal. Kedua kondisi tersebut membuat seseorang terpaksa harus ‘multitasking’ dalam berinteraksi yang bisa berujung kelelahan.

3. Keinginan bersaing
Saat tampil dalam telekonferensi, seseorang punya dorongan alami untuk memperlihatkan sisi terbaik darinya. Setiap siswa, sebut Moses, akan terdorong untuk tampil menjadi yang paling baik di antara yang lainnya.

4. Hak privasi
Saat belajar secara tatap muka, siswa tak perlu mengungkapkan detail tentang kehidupan pribadinya dengan teman sebayanya di sekolah. Namun, privasi-privasi itu hilang dalam pembelajaran jarak jauh secara daring. Mengaktifkan kamera berarti mempersilakan orang lain untuk melihat apa pun yang terjadi dalam kehidupan mereka.

Moses mengatakan, banyak dari platform telekonferensi ini tak terlalu aman. Informasi yang diberikan siswa saat telekonferensi berisiko dapat diakses oleh orang lain.