Alasan Mengapa Memotret Momen Kehilangan Baik untuk Kejiwaan

Alasan Mengapa Memotret Momen Kehilangan Baik untuk Kejiwaan

Alasan Mengapa Memotret Momen Kehilangan Baik untuk Kejiwaan

Alasan Mengapa Memotret Momen Kehilangan Baik untuk Kejiwaan

Sebagian dari Anda barangkali mengambil foto hanya ketika momen menyenangkan. Namun ada, sebagian orang yang mengabadikan momen-momen kehilangan, seperti saat kematian atau bayi yang lahir tapi langsung meninggal.
Yang terbaru adalah pasangan selebritas Chrissy Teigen dan John Legend yang membagikan berita kehilangan bayinya. Unggahan melalui Instagram berisi serangkaian foto hitam-putih itu diberi keterangan cerita pengalaman kehilangan bayinya.

Teigen terlihat menggendong bayi yang sedang dibedong.

Pakar Kesehatan Mental sekaligus Direktur Eksekutif Suicide Awareness Voices of Education, Dan Reidenderg mengatakan langkah mengabadikan melalui foto dan membagikan tersebut mengambil peran kuat dalam proses penyembuhan bagi orang tua yang berduka.

“Sebuah gambar menceritakan 1.000 kata, ungkapan ini masih berlaku hingga kini dan pada saat berduka, foto membantu untuk menangkap sesuatu yang hanya punya satu kesempatan untuk diingat,” jelas Dan Reidenberg dikutip dari pokerrepublik.

“Dalam situasi yang sangat menyakitkan seperti mereka, mereka mengalami begitu bayak emosi. Foto akan membantu mereka mempertahankan emosi itu dari waktu ke waktu, jadi ketika mereka berada di tempat dan kesedihan berbeda, mereka akan dapat melihat kembali dan mengingat betapa semua itu nyata terjadi,” tambah dia lagi.

Ketika mengalami duka mendalam, hidup bisa terasa tak bisa dipercaya, tidak nyata, tapi foto-foto seperti itu kelak membantu mengingatkan kita.

Serupa diutarakan Gina Harris, CEO dari Now I Lay Me Down to Sleep–sebuah organisasi nirlaba yang didirikan 2005 untuk memberikan kenangan fotografi pada keluarga yang kehilangan bayi. Harris bercerita, ia pun pernah kehilangan seorang anak laki-laki yang lahir langsung meninggal.

Saat itu ia berpikir, untuk apa mengambil foto anaknya. Ia gamang antara, merasa apakah itu tabu atau tidak dengan keinginan mengabadikan sang anak untuk terakhir kali.

“Ketika saya melihat betapa indahnya dia, saya memutuskan untuk memotret,” tutur Harris.

Foto-foto sang anak pun jadi benda yang paling berharga bagi Harris dan menjadi bagian dari proses penyembuhan dari duka.

“Bagi orang tua yang hanya punya sedikit waktu dengan bayinya, kenangan dan cerita itu bisa didapat dari foto yang diambil dalam momen-momen singkat tersebut,” kata Harris.

Selama 15 tahun terakhir, NILMDTS merampungkan hampir 50 ribu sesi foto. Lembaga nirlaba ini juga melatih perawat untuk mengabadikan momen. Selain itu, organisasi juga menawarkan jalan-jalan kenangan bagi keluarga–untuk menghormati bayi yang meninggal setelah keguguran atau lahir mati atau jenis kehilangan bayi lainnya.

“Foto dapat membantu kita mengingat detail yang tidak kita ingat karena emosi kita begitu kuat. Foto dapat memberi kita perspektif tentang bagaimana kita mengatasi kesedihan kita sendiri,” Reidenberg menjelaskan.

Sementara seorang terapis pernikahan dan keluarga yang bersertifikat, Saniyyah Mayo mengingatkan, psikolog mengajarkan bahwa cara terbaik untuk mengingat orang yang Anda cintai adalah dengan berbagi cerita mereka ke orang lain. Cara menyembuhkan duka, adalah dengan membicarakan rasa sakit itu sendiri.

“Semakin banyak Anda berbicara tentang peristiwa tragis di hidup Anda, maka semakin kuat Anda. Itu adalah alasan yang sama mengapa orang pergi ke terapi. Mereka berbicara tentang rasa sakit mereka, yang memungkinkan mengambil kekuatan dari rasa sakit itu,” tutur Sanniyah Mayo.

Berbagi bagian yang menyakitkan dalam hidup bisa membantu orang lain merasa tidak terlalu sendirian. Dan ini bisa sangat menyembuhkan.

Reidenberg pun memuji cara yang dilakukan pasangan Teigen dan Legend lantaran memiliki keberanian berbagi sesuatu yang begitu intim dan menyakitkan–yang sulit dilakukan semua orang terlebih bagi selebritas.

“Saya berharap dengan dia melakukan itu [mengunggah foto], orang lain akan melihat sisi kemanusiaan yang dimiliki semua orang, bahwa rasa sakit adalah rasa sakit, tidak peduli Anda siapa. Hal-hal yang menyedihkan terjadi pada kita semua,” sambung Reidenberg.