Aisha Wedding Muncul Karena Rapuhnya Keluarga

Aisha Wedding Muncul Karena Rapuhnya Keluarga

Aisha Wedding Muncul Karena Rapuhnya Keluarga

Aisha Wedding Muncul Karena Rapuhnya Keluarga

Senjaqq Domino99 -PROMOSI nikah muda yang dilaksanakan wedding organizer Aisha Wedding memunculkan tidak sedikit polemik, terlebih andai memang tidak sedikit yang terbujuk dan menerima ajakann WO ini menandakan begitu rapuhnya pertahanan di lokasi tinggal tangga atau masyarakat terhadap anak.

Padahal menurut keterangan dari Deputi Bidang Perlindungan Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Nahar lingkungan family adalahbasis mula kehidupan untuk setiap manusia.

“Lingkuangan family menjadi lokasi kesatu dan utama untuk anak untuk mendapat hak menjaga kelangsungan hidup (survival), hak guna tumbuh kembang secara lumrah (deverlopmental), hak guna mendapatkan perlindungan (protection), dan hak guna ikut berpartisipasi membina masa depannya (participation),” kata Nahar, Jumat (12/2).

Menurutnya, family sebagai lingkungan terdekat untuk anak paling menilai masa mendatang anak, kerapuhan family menjadi hal yang berpengaruh terhadap kompleksitas persoalan anak.

Anak sedang di jalanan, anak diekploitasi, anak ditelantarkan, anak diperdagangkan, anak tercebur pornografi dan anak berhadapan dengan hukum terjadi sebab rapuhnya pondasi keluarga.

“Perlindungan anak telah semestinya dilaksanakan secara sistematis dari hulu hingga hilir dengan basis utama pada penguatan keawetan keluarga,” katanya.

Ia melanjutkan, asahlah pokok perlindungan anak bidang family dan pengasuhan pilihan di kekuasaan oleh kasus-kasus yang berakar dari kerentanan family baik rentan secara ekonomi, sosial, kemasyarakatan dan religiusitas keagamaan.

Untuk menjaga keawetan keluarga, pihaknya juga menegaskan sudah melakukan sejumlah stategi yaitu kesatu adanya Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) yang sekarang telah terbentuk 156 Puspaga di 12 Provinsi dan 12 Kabuapten/Kota, bermanfaat memberikan konsultasi, informasi, rujukan dan konseling. Ada 365 tenaga konselor.

Baca juga:

Kedua, inisiasi Gerak Sinergi Terpadu Pengasuhan Anak (Gesit Asuh). Ketiga, penguatan Keluarga melewati PATBM yang bermanfaat sebagai pecegahan dan deteksi dini yang sudah tersebar di 1.921 desa, 343 Kab/Kota dan 34 Provinsi.

“Keempat Penyusunan protokol ‚ÄúProtokol Pengasuhan Untuk Anak Tanpa Gejala, Anak Dalam Pemantauan, Pasien Anak Dalam Pengawasan, Kasus Konfirmasi, Dan Anak Dengan Orangtua/Pengasuh/Wali Berstatus Orang Dalam Pemantauan, Pasien Dalam Pengawasan, Kasus Konfirmasi, Dan Orangtua Yang Meninggal,” lanjut Nahar.

Kelima, pengabsahan UU No 16 Tahun 2019 mengenai Perubahan Atas UU No. 1 Tahun 1974 mengenai Perkawinan dan segera menyiapkan Peraturan Pemerintah berhubungan tata teknik dispensasi kawin. Kelima, pelatihan untuk orangtua mengenai Pengasuhan Berbasisi Hak Anak.

Tujuh, pelatihan untuk orangtua mengenai Digital Parenting sebagai respon atas pertumbuhan teknologi dan native generation, sampai-sampai orangtua menjadi lebih percaya diri menemani anaknya memakai dan mengkonsumsi gadget sampai-sampai anak terhindar dari kerentanan merasakan perundungan di media online, pemerasan online, grooming, sexting dan predofil yang memakai media sosial sebagai perantara, termasuk gampang percaya dengan iklan/promosi yang mengkaitkan masalah anak.