7 Penyebab Menurunnya Kemampuan Mengecap Selain Covid-19

7 Penyebab Menurunnya Kemampuan Mengecap Selain Covid-19

7 Penyebab Menurunnya Kemampuan Mengecap Selain Covid-19

7 Penyebab Menurunnya Kemampuan Mengecap Selain Covid-19

Kehilangan kemampuan indera pengecap tak hanya terjadi akibat Covid-19. Ada beberapa penyebab lain yang mengurangi kemampuan indera pengecap dan penciuman.
Para ahli kesehatan telah menyebutkan bahwa kehilangan kemampuan mencium atau mengecap jadi salah satu gejala Covid-19. Jika gejala ini muncul disertai demam, batuk, nyeri tubuh, sakit kepala, pilek, muntah, dan diare, maka seseorang diminta untuk segera memeriksakan diri.

“Pasien kehilangan indera penciuman selama 3-7 hari tetapi ada yang kehilangan indera penciuman lebih lama. Ketika kemampuan ini kembali, beberapa menyadari ada perubahan penciuman dan perasa yang menetap,” ujar Anthony Del Signore, direktur rinologi dan operasi dasar tengkorak endoskopi di Mount Sinai Union Square, mengutip dari pokerrepublik.

Anosmia sendiri merupakan kondisi saat fungsi indera penciuman mengalami penurunan. Kondisi ini umumnya akan disertai dengan berkurangnya kemampuan dalam mengecap.

Namun, kehilangan kemampuan indera pengecap tak selalu terjadi akibat Covid-19. Ada beberapa hal lain yang bisa turut berkontribusi. Berikut di antaranya.

1. Konsumsi makanan atau minuman yang terlalu panas
Terdengar sepele, tetapi makan atau minum sesuatu yang terlalu panas bisa membuat perubahan di indera pengecap. Makanan atau minuman yang dikonsumsi berikutnya akan terasa berbeda. Namun, kondisi ini hanya berlangsung sementara.

2. Demam atau alergi
Saat hidung tersumbat akibat infeksi virus atau bakteri dan alergi, makanan atau minuman bakal terasa hambar di lidah. Ini pula yang membuat nafsu makan menurun.

Del Signore mengatakan bahwa indera penciuman yang menghilang saat sakit berkaitan dengan kemampuan indera pengecap yang menurun.

Setelah virus hilang dan alergi diobati, penyumbatan bisa mereda dan perlahan lidah akan kembali mengenali rasa.

3. Polip hidung
Polip hidung merupakan pertumbuhan jaringan yang lembut, tidak nyeri, dan bersifat non-kanker pada lapisan saluran hidung atau sinus.

Mengutip dari Mayo Clinic, polip hidung timbul akibat peradangan kronis dan berhubungan dengan asma, infeksi berulang, alergi, kepekaan obat, atau gangguan kekebalan tertentu.

Polip hidung berukuran kecil kerap tidak menimbulkan gejala. Sedangkan polip berukuran besar bisa menyumbat saluran hidung sehingga mengakibatkan masalah pernapasan, kehilangan indera penciuman, dan infeksi.

4. Prosedur pengobatan tertentu
Obat-obatan tertentu bisa mengganggu indera pengecap, termasuk obat tiroid dan inhibitor ACE tertentu untuk tekanan darah tinggi, antijamur, dan obat kemoterapi.

Jika Anda menjalani prosedur pengobatan baru dan mengalami kehilangan indera pengecap tiba-tiba, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter.

5. Kekurangan nutrisi
Menurut tinjauan ilmiah yang diterbitkan di The Consultant Pharmacist, kekurangan nutrisi tertentu seperti seng (zinc) bisa merusak indera pengecap.

Selain itu, kekurangan vitamin B12 juga mampu memengaruhi indera pengecap. Vitamin ini punya peran penting dalam fungsi sistem saraf. Namun, sebelum memutuskan untuk menambahkan suplemen, Anda bisa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter atau menambah asupan pangan mengandung seng dan vitamin B12.

Anda bisa memperoleh asupan seng dari konsumsi daging sapi, kerang, kacang-kacangan, produk susu, telur juga sayuran hijau. Sedangkan vitamin B12 bisa diperoleh dari sarden, salmon, tuna, susu, yogurt, juga kerang.

6. Penyakit autoimun
Saat makanan terasa berbeda di lidah, ada kemungkinan disebabkan penyakit autoimun. Penyakit Sjögren’s jadi salah satu penyakit autoimun yang bisa mengakibatkan kekeringan secara luas.
Del Signore menjelaskan, kekeringan terjadi di selaput lendir mulut sehingga memengaruhi selera makan Anda. Saat air liur berkurang, kemampuan indera pengecap menurun sehingga rasa terdistorsi. Makanan akan terasa seperti logam.

Selain perubahan indera pengecap, Sjögren’s akan memiliki gejala mata kering atau hidung kering, kerusakan gigi, sakit perut, dan nyeri sendi atau otot.

7. Kondisi neurologis tertentu
“Setiap kondisi neurologis yang memengaruhi saraf kranial dapat memengaruhi rasa,” kata Rachel Kaye, asisten profesor dan direktur Laryngology-Voice, Airway and Swallowing Disorders di Rutgers University.

Dia memberikan contoh, Bell’s palsy yang mengakibatkan kelumpuhan di salah satu sisi wajah. Penyakit ini akan memengaruhi indera pengecap sebelum wajah menjadi lumpuh.