7 Fakta Fajar Bocah Cianjur Tinggal Tulang Sebelum Meninggal Dunia

7 Fakta Fajar Bocah Cianjur Sebelum Meninggal Dunia

7 Fakta Fajar Bocah Cianjur Sebelum Meninggal Dunia

 

7 Fakta Fajar Bocah Cianjur Sebelum Meninggal Dunia

AGEN BANDARQ – 7 Fakta Fajar Bocah Cianjur (10) bocah kurus kering yang hidup prihatin akhirnya menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Sayang Cianjur, Sabtu (23/3/2019) sekitar pukul 17.00 WIB. Sejak siang setelah di-rontgen kondisi Fajar Saefudin terus memburuk. Ia dikabarkan kritis dan akhirnya Fajar Saefudin meninggal dunia.

“Innalillahi wainnaillaihi rojiun, Fajar Saefudin meninggal dunia bang tadi sore,” ujar Babinsa Haurwangi, Koptu Haryadi, melalui pesan singkat, Sabtu (23/3/2019) sore. Haryadi mengawal jenazah Fajar Bocah Cianjur sore ini dari rumah sakit menuju rumah duka di Haurwangi.
Fajar Saefudin (10) warga Kampung Neglasari RT 01/11, Desa Haurwangi, Kecamatan Haurwangi, Kabupaten Cianjur, yang tubuhnya kering kerontang tinggal kulit dibalut tulang pagi tadi menjalani rontgen di RSUD Sayang Cianjur.

Fajar sudah tak bisa berjalan. Ia duduk di kursi roda ditemani ayah dan Babinsa Haurwangi Koptu Haryadi. Meski didorong pakai kursi roda, Fajar dikabarkan sudah mau makan meski masih dibantu cairan infus. “Pagi ini Fajar menjalani rontgen, meski masih duduk di kursi roda, Fajar sudah mau makan,” kata Haryadi.

Fajar Saefudin (10) kondisinya memburuk karena menderita suspext tubercolusis.Tubuhnya lemah dan kurus saat ditemukan oleh anggota Babinsa Haurwangi Koptu Haryadi, Kamis (21/3/2019).

Fajar sudah sebulan tak pergi sekolah ke madrasah Al-Huda karena jatuh sakit, kondisi makin parah setelah ia tak mau makan dalam beberapa hari terakhir.

Saat diperiksa Babinsa, tak hanya Fajar Bocah Cianjur yang sakit. Sang ayah Aef Saefudin (45) dan sang ibu Vera (42) juga menderita sakit. Sekeluarga ini tinggal di rumah pengap tak layak huni. Tak ada ventilasi udara dalam rumah dan sekeluarga ini menderita penyakit paru-paru.

Nahas, bocah asal Cianjur, Fajar Saefudin (10), tubuhnya kering kerontang tinggal kulit dan tulang saat ditemukan oleh Babinsa Haurwangi Koptu Haryadi, Kamis (21/3/2019).

7 Fakta Fajar Bocah Cianjur adalah pelajar kelas IV madrasah dan warga Kampung Neglasari RT 01/11, Desa Haurwangi, Kecamatan Haurwangi, Kabupaten Cianjur. Lantaran kondisinya yang sudah sakit, Fajar Saefudin sudah sebulan tak pergi sekolah.

Kini, kondisinya makin parah setelah ia tak mau makan dalam beberapa hari terakhir. Dalam tulisan ini, akan dirangkum beberapa fakta mengenai Fajar Saefudin, bocah asal Cianjur yang menderita sakit:

1. Sekeluarga Menderita Sakit Paru-paru

Tak hanya Fajar Saefudin saja yang sakit. Saat diperiksa Babinsa, sang ayah Aef Saefudin (45) dan sang ibu Vera (42) juga menderita sakit.

Sekeluarga ini menderita penyakit paru-paru. Kemudian, sekeluarha ini pun tinggal di rumah pengap tak layak huni. Rumahnya terlihat tak ada ventilasi udara.

2. Dibawa ke Rumah Sakit

Saat melihat kondisi Fajar Saefudin dan keluarganya, Babinsa langsung mengumpulkan warga dan ketua RT setempat. Kondisi Fajar Saefudin yang sudah sangat lemah akhirnya dipaksa dibawa ke rumah sakit oleh Babinsa.

“Semula mereka menolak, namun saya paksa dan saya minta bantuan sana sini untuk biaya makan yang menunggu Fajar di rumah sakit,” kata Haryadi, ditemui saat melakukan kerjabakti membersihkan dan merenovasi rumah keluarga Fajar, Jumat (22/3/2019).

3. Kronologi Sekeluarga Bisa Sakit Parah

Ternyata, yang awalnya sakit itu ayahnya Fajar, lalu menular ke sang istri dan lalu menular kepada Fajar. “Awalnya batuk batuk menular ke anak dan istri, cucu saya sebulan tak sekolah, seminggu sebelum dibawa kemarin susah makan,” kata Kakek Fajar, Arim (54).

Beberapa kali ia pun membawa cucunya berobat ke puskesmas. Sayang, pengobatan terpaksa alakadarnya lantaran keluarga Fajar tak punya biaya berobat. “Ayahnya hanya tukang ojeg, kadang dapat uang kadang tidak,” kata Arim.

4. Adik Fajar Meninggal

Tak hanya Fajar, nasib nahas juga menimpa dua cucu Arim lain. Dua cucu itu tak lain masih adiknya Fajar. “Adiknya Fajar meninggal dalam usia satu bulan, ia meninggal di rumah seperti sesak, lalu adik Fajar lainnya yakni Fajri meninggal dalam usia dua tahun,” ujar Arim sambil tertunduk.

5. Keluarga Tak Punya Uang Sepeser Pun

Saat hendak dibawa, Haryadi mengaku sempat kebingungan. Pasalnya, keluarga Fajar datang dari kalangan tak mampu, tidak memegang uang sepeserpun. “Semoga aparat dan pemerintah membantu keluarga miskin yang sakit ini, karena mereka tak punya uang sepeser pun,” ujar Haryadi. Tak hanya itu, rupanya keluarga Fajar juga tak dapat jatah beras raskin. Satu rumah yang minim ventilasi tersebut ditinggali oleh tujuh orang.

“Keluarga Fajar sepengetahuan saya dalam sebulan hanya mendapat satu liter beras raskin itupun harus ditebus uang Rp 2 ribu, karena gak ada kartu BSM kalau yang ada kartu bisa diberi beras raskin tiga liter sampai lima liter,” ujar seorang tetangga yang dekat dengan rumah Fajar.

6. Kata Dinkes

Fajar, disebut pernah berobat sebulan lalu karena keluhan demam dan panas. Hal itu dikatakan Kepala Bidang Bina Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur, dr Irvan Nur Fauzy. “Riwayat penyakit pasien pernah berobat pada 11 Maret 2019 dengan keluhan batuk dan sesak yang disertai demam,” ujar Irvan melalui sambungan telepon, Jumat (22/3/2019).

Saat Fajar diperiksa oleh dokter di puskesmas, diagnosis menunjukkan bahwa bocah itu menderita asma bonchiale+ suspext tb paru. “Dari medis menyarankan cek dahak, konsul klinter (gizi) dan pengobatan tapi pasien pulang tidak ke klinik terdekat,” kata Irvan.

7. Dirujuk ke RS

Pihak Dinas Kesehatan sendiri mendapat informasi dari ketua RW bahwa kondisi Fajar memburuk, pada Rabu (20/3/2019). “Kemudian kami (dari) tim puskesmas melakukan kunjungan rumah dan melakukan pemeriksaan kepada pasien,” kata Irvan.

Fajar Saefudin pun dianjurkan untuk dirujuk ke RSUD untuk penanganan lebih lanjut namun keluarga pasien tidak memiliki jaminan kesehayan dan tidak memiliki kartu keluarga.

“Kemudian kami koordinasi dengan ketua RW, untuk segera membuat SKTM dan kartu keluarga sementara, kemarin disarankan utk segera langsung ke RS tapi karena keluarga belum memiliki persyaratan SKTM sehingga baru kemarin dirujuk ke rumah sakit,” ujarnya.