5 Pertanyaan ke Diri Sendiri Sebelum Putuskan Menikah

5 Pertanyaan ke Diri Sendiri Sebelum Putuskan Menikah

5 Pertanyaan ke Diri Sendiri Sebelum Putuskan Menikah

5 Pertanyaan ke Diri Sendiri Sebelum Putuskan Menikah

Menikah adalah salah satu keputusan besar dalam hidup yang butuh pertimbangan matang sebelum melangkah ke jenjang tersebut.
Pasalnya, Anda akan menghabiskan sisa hidup bersama seseorang yang dicintai.

Apa yang membuat Anda mengambil keputusan untuk menikah?

Tiap orang punya beragam versi jawaban. Namun, Daphne de Marneffe, psikolog klinis, menyebut bahwa umumnya jawaban cenderung menyangkut pasangan, bukan diri sendiri.

“Anda harus jujur tentang ini. Tidaklah apa-apa memiliki kebutuhan dan memberitahu seseorang apa yang cocok untuk Anda. Orang sering berpikir bahwa jika mereka tidak mengajukan pertanyaan ini, mereka akan pergi begitu saja dan itu tidak benar,” jelas de Marneffe, sebagaimana dilansir dari LudoQQ pokerace99.

Untuk memastikan Anda memiliki hubungan yang sadar, selaras dan sehat, berikut lima pertanyaan yang wajib Anda tanyakan pada diri sendiri sebelum memutuskan untuk menikah.

1. Apa hubungan ini setara?
Perihal finansial jelas jadi pembicaraan penting apalagi dalam kehidupan rumah tangga nantinya. Sebaiknya, diskusi finansial juga diimbangi dengan pertimbangan emosional.

Selama menjalani hubungan, apa Anda atau pasangan jadi salah satu pihak yang kerap berkompromi dalam pemenuhan kebutuhan? Jika Anda merasa sendirian dan paling banyak berkontribusi, sebaiknya evaluasi lagi sebelum ambil keputusan.

“Suatu hal yang tidak seimbang bisa kembali menyerang Anda. Menghabiskan semua energi Anda agar satu orang tetap bahagia bakal jadi beban ditambah nanti ada anak dan orangtua yang sakit,” kata de Marneffe.

2. Bagaimana ekspektasi orangtua akan kehidupan pernikahan Anda?
Tiap pasangan memiliki keunikan termasuk dalam mendidik anak maupun seni pengambilan keputusan. Namun, keluarga maupun kerabat tetap memberikan kontribusi akan kehidupan pernikahan Anda.

Penting untuk melihat harapan mereka tentang kehidupan keluarga Anda kelak.

Amiira Ruotola, salah satu penulis buku How to Keep Your Marriage From Sucking, bercerita baik keluarganya dan keluarga sang suami punya kerangka acuan berbeda.

Di keluarganya, kepentingan anak-anak selalu didahulukan. Sedangkan mertuanya, lebih mementingkan pernikahan mereka dan anak-anak diharapkan lebih mandiri.

“Anda tidak hanya secara intuitif mengetahui arti keluarga bagi orang lain, dan Anda tidak dapat mengharapkan mereka mengetahui artinya bagi Anda,” kata Ruotola.

3. Apa saya menginginkan anak?
Pertanyaan ini mungkin terdengar aneh karena sebagian orang menganggap bahwa tiap pernikahan menginginkan kehadiran anak.

Padahal, tidak masalah jika Anda kelak mempertimbangkan proses adopsi karena ingin memberikan kesempatan kehidupan dan pendidikan lebih baik buat anak yang kurang beruntung.

Kemudian, jika Anda menginginkan anak, cek lagi jika pasangan memiliki pandangan serupa. Jika keinginan Anda dan pasangan selaras, diskusi bisa berlanjut lebih jauh.

4. Apa tujuan hidup saya? Apakah sesuai dengan tujuan hidup pasangan?
Bicara tujuan hidup barangkali kerap menghadirkan jawaban klise seputar kebahagiaan. Anda memang menginginkan kebahagiaan tapi definisikan kembali kebahagiaan ini. ‘

Rob Scuka, direktur eksekutif National Institute of Relationship Enhancement, berkata penting untuk memeriksa tujuan besar hidup dan memastikan itu cukup selaras dengan pasangan.

“Jika satu orang menginginkan sesuatu yang sangat berbeda, Anda akan berdebat tentang hal itu,” imbuhnya.

5. Apa persiapan saya untuk kehidupan pernikahan?
Ellen McCarthy Rosenthal, penulis The Real Thing: Lessons on Love and Life from a Wedding Reporter’s Notebook, mengatakan banyak pasangan yang begitu siap untuk hari pernikahan mereka.

Namun, hanya sedikit pasangan memikirkan kehidupan setelah hari pernikahan, di mana menjadi kehidupan baru buat mereka.

Ia lantas mendorong pasangan untuk membuat perencanaan termasuk dengan konseling pernikahan, membaca buku tentang hubungan yang sehat atau konsultasi dengan psikolog keluarga.