5 Cara Merencanakan Keuangan Untuk Orang Tua Milenial

5 Cara Merencanakan Keuangan Untuk Orang Tua Milenial

5 Cara Merencanakan Keuangan Untuk Orang Tua Milenial

 

5 Cara Merencanakan Keuangan Untuk Orang Tua Milenial

Cerdaspoker Domino99 – Tren baby shower, maternity photoshoot, babymoon, pemakaian jasa doula (pendamping sekitar kehamilan sampai anak lahir), birth photographer sampai push present (hadiah dari pasangan atau keluarga guna ibu pasca melahirkan) kian mengecat media sosial semua orang tua milenial.

Tren yang sejatinya bukan keperluan utama ini lama-kelamaan makin ‘menuntut’ semua orang tua baru yang hendak tampil sebagai orang tua kekinian. Benturan antara kemauan (wants) dan keperluan (needs) juga tak terelakkan.

“First time mom, nih seringkali bawaannya lebih tidak sedikit di ‘wants’. Apalagi baca blog, nonton vlog, media sosial terus jadi hendak punya banyak,” kata Nadia Mulya, ibu empat anak sekaligus pengarang saat didatangi di Kinokuniya, Plaza Senayan, Jakarta Pusat, sejumlah waktu lalu.

Sepakat dengan Nadia, mompreneur sekaligus financial planner Prita Ghozie berbicara media sosial memang mempengaruhi keperluan para ibu. Namun Prita memandang tak terdapat yang benar atau salah dalam implementasi tren-tren ibu kekinian. Hanya saja yang butuh disadari ialah semua berujung pada uang. Artinya, apapun yang dilakukan, semua membutuhkan uang.

“Orang mesti mindful, sadar dengan opsi dan konsekuensi,” kata Prita dalam peluang serupa.

Oleh sebab itu, dua-duanya sepakat bahwa penting untuk tiap pasangan guna mempunyai perencanaan keuangan.

“Dari mulai hamil, testpack saja beli. Kita mulainya saja gunakan uang, belum promil [program hamil]. Kemudian ketika hamil, argo mulai jalan, anak bermunculan lalu persiapan edukasi anak,” jelas dia.

Berikut sejumlah teknik merencanakan finansial yang dapat dilakukan untuk orang tua milenial supaya pengeluaran tak lebih banyak ketimbang pendapatan.

Cari informasi

Nadia menuturkan, di samping membaca kitab panduan laksana ‘MoneySmart Parent’ yang ditulis dirinya dan Prita, ibu dapat bergabung dengan komunitas, laksana komunitas yang diisi oleh ibu-ibu dengan empiris yang lebih tidak sedikit supaya dapat jadi wadah tukar pikiran. Dari obrolan, kata Nadia, seringkali ibu dapat mengetahui mana yang mesti punya, mana yang dapat meminjam atau sewa.

“Membaca informasi dari internet, banyak sekali dari brand, jadi seluruh seolah jadi kebutuhan. Padahal bila mau ngobrol sama komunitas, tersebut akan kelihatan mana yang dibutuhkan, mendesak atau dapat ditunda,” imbuhnya.

Disiplin

Prita menyadari bahwa perencanaan finansial bukan urusan mudah. Perencanaan keuangan ialah perjalanan sampai-sampai semua musti berani memulai. Mulai disiplin dalam merencanakan dan memilah keperluan serta keinginan.

Manfaatkan asuransi

Prita memberikan misal USG atau pemeriksaan kandungan. Kementerian Kesehatan menganjurkan USG melulu 4 kali sekitar kehamilan. Orang tua baru yang bakal menimang anak kesatu bisa jadi melakukannya lebih dari 4 kali menilik sudah tersedianya kecanggihan teknologi sampai-sampai orang tua dapat melihat wajah anaknya walau masih dalam kandungan. Padahal andai mau direncanakan, dana USG dapat disalurkan guna pos-pos lain. Orang tua pun musti pandai memanfaatkan BPJS atau asuransi dari lokasi kerja.

Tujuan investasi

“Biasanya yang tidak jarang terlupakan, orang enggak punya rencana keuangan. Jadi semua tersebut maunya jump to investment,” kata Prita.

Sebagai financial planner, dia sering dihadapkan pada pertanyaan soal investasi yang cocok dengan usia. Tak terdapat jawaban guna hal ini. Justru yang butuh dipikirkan terlebih dahulu merupakan tujuan investasi sampai-sampai baru dapat menilai jenis investasi.

Selesaikan utang konsumtif

Orang sering lupa andai masih mempunyai utang konsumtif. Utang konsumtif ialah utang yang dimanfaatkan untuk pekerjaan konsumsi. Prita memberikan misal berutang untuk ongkos pernikahan. Pasangan pengantin lumayan merasa percaya diri bahwa angpau penikahan akan lumayan melunasi utang. Pada prakteknya tidak. Belum lagi andai ternyata bulan berikutnya istri hamil. Tentu beban ongkos akan kian besar.

Perencanaan finansial termasuk investasi dapat tidak berjalan andai masih mempunyai utang konsumtif. “Enggak terdapat ceritanya orang dapat mendapatkan untung sekitar dia masih punya utang konsumtif. Utang konsumtif mesti ditamatkan dulu sebab bunga dari utang konsumtif masih lebih tinggi dikomparasikan hasil potensi investasi,” jelas dia.