4 Mitos tentang Kesehatan Seksual Ini Masih Dipercaya, Apa Saja?

4 Mitos tentang Kesehatan Seksual Ini Masih Dipercaya, Apa Saja?

4 Mitos tentang Kesehatan Seksual Ini Masih Dipercaya, Apa Saja?

 

4 Mitos tentang Kesehatan Seksual Ini Masih Dipercaya, Apa Saja?

 

Ludoqq Domino99 Pendidikan kesehatan seksual tidak hanya dapat didapatkan di bangku sekolah saja. Lingkungan family maupun sosial juga dapat mengajarkan kita sejumlah hal tersebut.

Namun sayangnya, masih ada sejumlah informasi tidak cukup tepat yang sampai kini diandalkan masyarakat dan dapat saja semakin menyebar ke generasi berikutnya.

Agar bukan lagi ‘salah kaprah’, inilah 4 kenyataan tentang seks yang seringkali diketahui seiring tumbuh dewasa.

1. Berhubungan intim tanpa kondom pasti menciptakan hamil

Mungkin urusan ini bertujuan untuk mengayomi anak muda dari seks tidak aman, menurut keterangan dari Insider.

Namun faktanya, setiap orang mempunyai kesuburan yang bervariasi. Jadi bersangkutan intim tanpa kondom tidak selalu menciptakan hamil.

Berdasarkan keterangan dari Dr. Maureen Whelihan, seorang OB / GYN di the Center for Sexual Health and Education, mengerjakan hubungan intim tanpa kondom sekitar ini yang selesai pada kehamilan melulu 20%. Ludoqq Domino99

2. Siklus menstruasi bakal sama dengan rekan dekat

Pernahkah kita mendengar bahwa siklus menstruasi bakal sama dengan seorang teman andai sering menguras waktu bersama?

Nyatanya, belum ada riset yang mengejar mekanisme ‘sinkronasi’ menstruasi pada tubuh wanita, kata ginekolog Dr. Jen Gunter.

Di samping itu, masing-masing wanita merasakan panjang siklus menstruasi yang bervariasi.

3. G-spot sebagai titik kepuasan wanita

Konsep G-spot, zona penginduksi kesenangan yang seharusnya sedang di dalam dinding depan vagina, sudah menjadi topik populer sekitar bertahun-tahun.

Namun, konsep ini malah sulit dicerna karena bisa jadi G-spot tidak ada.

Bahkan, peneliti belum dapat menemukan lokasi khusus ini.

Penulis kitab ‘The Vagina Bible’, Gunter juga mengira Gräfenberg (penemu konsep G-spot) salah mengartikan bagian beda dari organ intim wanita, laksana klitoris yang sarat saraf.

“Bagian bawah vagina, dekat dengan uretra, bakal terasa ‘hebat’ untuk banyak wanita sebab rangsangan di sini mengakses klitoris, tetapi diperlukan rangsangan yang tepat,” katanya.

4. Tidak dapat mengerjakan hubungan intim yang aman dengan penderita Penyakit Menular Seksual (PMS)

Sebenarnya PMS, laksana klamidia, sifilis, gonore, dan HIV, bisa diobati dengan obat-obatan untuk menangkal penularan penyakit ke pasangan.

Di samping itu, orang bisa menurunkan risiko penyebaran PMS ke pasangannya andai mereka memakai kondom.

Tes PMS yang dilaksanakan secara teratur pun dapat menangkal penyebaran infeksi tanpa membahayakan kehidupan seks seseorang