3 TNI Dan KOPASUS ,Menyamar Menjadi 3 Profesi

3 TNI Dan KOPASUS ,Menyamar Menjadi 3 Profesi

3 TNI Dan KOPASUS ,Menyamar Menjadi 3 Profesi

 

3 TNI Dan KOPASUS ,Menyamar Menjadi 3 Profesi

 

Related image
1. Nyamar Tukang Cendol

Salah satu purnawirawan TNI AD berpangkat sersan dua di Kesatuan Artileri Pertahanan Udara, Slamet (73), menceritakan pernah tercebur dalam operasi mengejar penjahat di area Pedongkelan, Jakarta Barat. Dia dipilih menjadi intel sebab rambutnya yang gondrong tidak laksana anggota TNI beda yang cepak.

Dalam tugas perburuan penjahat selama nyaris dua bulan lamanya, Slamet menyamar menjadi seorang tukang cendol. Gerobak cendolnya telah dipersiapkan oleh kesatuan dan dia melulu tinggal menjualnya saja.

“Ya saat buat cendol dapat kemanisan dapat enggak manis, maklum lah saya kan bukan tukang cendol,” kenangnya seraya tertawa.

Dia menyatakan kerepotan saat mengejar pelaku seraya melayani pelanggan yang hadir ingin melakukan pembelian cendol.

Saat operasi penangkapan, Slamet dilengkapi senjata jenis FN yang diikatnya di pinggang, dan pun ada potret sang pelaku yang diburu. Tugasnya melulu memantau dan meyakinkan di mana pelaku berada. Sambil berniaga dia mengelilingi wilayah Pedongkelan guna meyakinkan alamat penjahat yang diburunya.

Dua bulan mengawasi pergerakan sang buruan, kesudahannya Slamet meyakinkan target dan mengadukan ke komandannya. Saat penyergapan, terjadi baku tembak di wilayah tersebut.

Karena kaget, Slamet yang masih menyamar sebagai tukang cendol langsung loncat ke kali untuk mengamankan diri. Untungnya Slamet selamat dan tidak ikut tertembak ketika penggerebekan. “Tembakan dari segala arah pas penggerebekan itu, saya panik dan langsung loncat aja,” tuturnya.
Image result for TNI nyamar jadi tukang durian

2. Menyamar jadi Tukang Durian
Anggota Kopassus memang paling berpengalaman dalam soal penyamaran untuk menginjak wilayah musuh. Seperti yang dilaksanakan seorang anggota Kopassus dengan nama samaran Sersan Badri yang sukses menyusup menjadi simpatisan GAM. Ia mesti rela menjadi tukang buah supaya identitas aslinya tidak diketahui.

Kisah tersebut ditulis dalam kitab “Kopassus guna Indonesia” karya Iwan Sentosa dan E.A. Natanegara. Suatu hari Badri menyamar sebagai tukang durian yang bakal mengirim dagangannya dari Medan ke Lhokseumawe. “Dalam perjalanan, melalui pos penjagaan dan pengecekan aparat, sejumlah kali saya diminta jatah durian.” kisah Badri.

Badri sengaja menyamar sebagai tukang buah perantauan, sebab sulitnya menyusup ke dalam masyarakat Aceh yang trauma dampak konflik berkepanjangan. Kalau Badri menyamar menjadi tukang buah perantauan, ia dapat leluasa bergerak dari Medan, Sumatera Utara sampai Lhokseumawe di Aceh Utara guna menjalankan bisnis buah yang dapat diantarkan ke markas GAM.

Penyamaran Badri tak boleh terbongkar. Ia berulangkali diuji kesetiaannya oleh semua petinggi GAM. Mereka meminta Badri menyembunyikan sanak family mereka. Termasuk menyembunyikan istri panglima GAM yang sedang hamil. Intinya, Badri menjadi “pelindung”.

Usaha Badri tak percuma sampai ia mendapat peluang memasuki gudang senjata kepunyaan GAM di Blang Ngara, Aceh Utara. Bahkan Badri pernah memberi bocoran pada GAM mengenai gerak-gerik TNI di sana. Bahkan biasanya anggota TNI menembaki temannya sendiri itu. Wajar saja, sebab penyamaran ini melulu petinggi TNI yang tahu.

Melalui penyamaran Badri, seorang anggota Sandi Yudha Kopassus tersebut akhirnya memahami bahwa sumber finansial GAM dari perniagaan ganja kering yang berasal dari Aceh Timur dan Aceh Utara. Ganja dikirim lewat laut memakai kapal-kapal kecil ke Malaysia
Image result for aksi sertu sutisna nyamar

3. Menyamar Jadi Tukang Ojek
Upaya anggota TNI dari Komando Distrik Militer (Kodim) 0603 Lebak, Sersan Satu Inf Sutisna, melumpuhkan penyamun motor tak sia-sia. Meskipun dirinya mesti meladeni anjuran pelaku baku hantam sekitar 11 menit.

Kejadian itu sekitar Mei 2019 lalu. Agar keberadaannya tak curigai, Sutisna menyamar menjadi seorang pengojek motor dan mangkal di Terminal Angkutan Kota (Angkot) Sunankalijaga Rangkasbitung. Daerah tersebut memang sering terjadi kejahatan penyamun dengan modus menjadi penumpang motor ojek lumayan tinggi.

Suatu hari, Sutisna yang telah menyamar mangkal di Terminal Angkot Sunankalijaga Rangkasbitung. Dia mendapat penumpang yang diketahui pelaku mempunyai nama Ridwan. Pelaku membawa tas hitam mengandung senjata tajam yang saat tersebut sudah dicurigai.

Sutisna diminta mengirimkan pelaku ke Pasar Gajrug, Kecamatan Cipanas dengan menjanjikan menunaikan Rp 120.000. Akhirnya Sutisna setuju.

Di tengah perjalanan, belum sampai destinasi di lokasi sepi secara tiba-tiba pelaku menyiramkan cairan air keras di botol tersebut ke paha korban. Selanjutnya, pelaku mengajak korban menatap mukanya ke belakang, sebab ada cairan panas di paha.

Sersan Satu Sutisna mencurigai penumpang tersebut akan mengerjakan kejahatan. Sehingga ia memblokir mukanya dengan kaca helm untuk menghindari siraman cairan air keras ke mata. Cairan panas tersebut sangat dialami pada kulit unsur dan korban tetap tenang sambil menggali lokasi tidak sedikit penduduk.

Setelah mendarat di Pasar Gajrug, korban menabrakkan kendaraannya ke tembok sampai terjatuh. Saat korban terjatuh, pelaku memungut motor korban, sampai-sampai terjadi baku hantam.

Saat terjadi baku hantam, pelaku bisa dilumpuhkan dengan sejumlah pukulan dari korban sampai melintaslah kendaraan patroli Polres Cipanas. “Saat ini, pelaku tengah menantikan sidang di Pengadilan,” katanya