3 Penyebab Terpisahnya Benua di Dunia pada 250 Juta Tahun Lalu

3 Penyebab Terpisahnya Benua di Dunia pada 250 Juta Tahun Lalu

3 Penyebab Terpisahnya Benua di Dunia pada 250 Juta Tahun Lalu

 

3 Penyebab Terpisahnya Benua di Dunia pada 250 Juta Tahun Lalu

AGODAPOKER Teori lempeng tektonik klasik dikembangkan pada 1960-an. Teori ini menggagas bahwa lapisan luar planet anda terdiri dari sebanyak lempeng kaku yang diceraikan oleh batas-batas sempit.

Permukaan Bumi dapat disaksikan sebagai puzzle sederhana, dengan melulu sembilan lempeng besar dan sejumlah yang lebih kecil.

Namun, saat model lempeng tektonik dunia kesatu kali dikembangkan, dilafalkan bahwa terdapat deformasi yang paling besar yang dirasakan oleh lempeng-lempeng kaku tersebut.

Lima puluh tahun sesudah revolusi lempeng tektonik, semua peneliti lumayan yakin bahwa unsur lempeng benua tidak seragam, pun tidak kaku.

Pemisahan besar lantas perlahan-lahan mengalihkan benua-benua ini, mengarungi lapisan mantel di bawahnya, menekankan benua, dan memutarbalikkan kerak Bumi. Ini ialah proses yang sudah terjadi sekitar jutaan tahun silam.

Dalam sebuah riset baru yang dilaksanakan baru-baru ini, semua ilmuwan menggandeng kesebelasan periset internasional untuk membina model komputer teranyar.

Model tersebut mengindikasikan seberapa besar perubahan format benua semenjak Periode Trias, selama 250 juta tahun lalu.

Contohnya, kala itu, Pangaea superkontinen mulai pecah, yang kemudian merobek lapisan antara Afrika dan Amerika Utara.

Para ilmuwan pun merinci pemahaman baru mengenai 3 penyebab pemisahan benua terebut dalam suatu makalah yang diterbitkan pada Mei 2019 di jurnal Tectonics.

Tim penelitian terdiri dari Dietmar Muller, Professor Geofisika di University of Sydney; Maria Seton, ARC Future Fellow di University of Sydney; dan Sabin Zahirovic, Asosiasi Periset Postdoctoral di University of Sydney.

Sementara itu, video ini menunjukkan sebuah model lempeng tektonik yang bergerak di atas mantel Bumi.

Warna biru mewakili lempeng yang ‘didaur ulang’ ke unsur dalam panas Bumi. Sedangkan warna merah adalahmaterial panas yang naik dari inti bumi

1. Kekuatan Luar Biasa
Berdasarkan keterangan dari makalah tersebut, gaya tektonik kolosal terjadi di sepanjang batas lempeng. Hal ini terlihat saat ada dua benua (atau lebih) bertabrakan, seperti saat Afrika bertabrakan dengan Eurasia, menyusun pegunungan Alpen.

Bisa juga: terciptanya cekungan saat benua terbelah, laksana yang terjadi di Afrika Timur.

“Penelitian baru kami memakai data geologis dan geofisika untuk mengindikasikan dengan tepat seluruh zona utama deformasi (perubahan format atau wujud dari yang baik menjadi tidak cukup baik) benua, yang di bina ke dalam model gerakan lempeng global, memakai perangkat empuk GPlates,” tulis semua peneliti.

“Kami mengindikasikan bahwa minimal sepertiga dari seluruh kerak benua sudah berubah format secara besar-besaran, semenjak Pangea kesatu kali mulai terpisah. Luasnya bahkan menjangkau 75 juta km kuadrat (29 juta mil persegi), kira-kira seukuran Amerika Utara dan Selatan dan Afrika digabungkan.”

Daerah benua yang terdeformasi mencakup benua besar yang terentang dan terendam, laksana Zealandia, serta kontraksi kerak di mana tabrakan sudah terjadi, menghasilkan sabuk gunung laksana Himalaya, Pegunungan Alpen Eropa, Pegunungan Zagros (Iran) dan Pegunungan Alpen unsur selatan Selandia Baru.

2. Keretakan di Kerak Bumi
Ketika kerak Bumi menipis dan merenggang, evolusi kerak seringkali tidak tampak dari pandangan manusia, sebab ini dengan cepat tertutupi oleh sedimen yang terdapat di dalam Bumi. Namun, ada sejumlah pengecualian.

Lembah East African Rift ialah salah satu misal paling luar biasa dari evolusi kerak yang tampak di permukaan Bumi. Celah raksasa ini tidak terbenam di bawah permukaan laut, sebab wilayah tersebut –pada zaman dahulu– didorong oleh mantel Bumi –lapisan cair panas yang mengakibatkan pengangkatan tanah dan vulkanisme.

East African Rift ditopang oleh sistem patahan raksasa yang membelah Afrika menjadi dua. Keretakan ini mengolah lanskap datar menyatu dengan pegunungan tinggi dan cekungan danau.

Menciptakan pelbagai vegetasi, mulai dari padang pasir sampai hutan. Keragaman lingkungan di permukaan Bumi unsur ini, membuka jalan untuk evolusi mula dan penganekaragaman manusia.

3. Tekanan
Tekanan yang terjadi secara terus menerus di Bumi kita, memberi kita daftar penting mengenai sejarah Bumi.

Pemodelan pola deformasi benua melewati waktu, memungkinkan kita guna mengeksplorasi pola-pola regional gempa bumi dan vulkanisme, serta menyatakan perubahan mengharukan dalam iklim Bumi dari masa ke masa.

“Ini pun menyediakan kerangka kerja menurut data tektonik untuk menggali sumber daya mineral, laksana logam kobalt, dan tungsten, yang dibutuhkan untuk masa mendatang energi berkelanjutan,” pungkas semua penulis penelitian.

BACA JUGA :

6 Manfaat Luar Biasa dari Rutin Mengonsumsi Lengkuas